Tulisan Dalam Rangka Mengobati Diri sendiri (Terapi Menulis)

Jika ditanya apakah hati si aku baik-baik saja. Tentu jawabannya belum sepenuhnya. Perjalanan kemarin membuat sisa luka di hati. Tapi yang mengizinkan sesuatu itu menjadi luka ya si aku sendiri, hahahahaa, jadi salah siapa? Ya salah si aku dong. Tetapi tidak mengapa, di atas semua itu pelajarannya luar biasa. Pertama dalam hal pemantasan diri dari segi materi. Si aku belum sepenuhnya berbakti, kondisi rumah harus direnov, terutama isinya, jadi kamu berjuang lagi ya dek, wkwkwkwkw… Iya sih.. Kamu harus kerja keras, karena orang yang kerja keras terlihat dari segi materinya. Lah kamu selama ini melakukan apa aja?? Prestasi? Belum ada..

Apa kamu sudah bisa terlihat bisa menghidupi anak perempuan orang??

Self reminder

Di pelataran rumah, saya lihat kondisinya baik-baik saja. Adat yang berbeda semakin meruncing perbedaan. Di atas semua itu, saya intropeksi diri. Sungguh, saya teramat bersalah atas semua ini, tetapi pelajarannya dapet, saya belajar untuk memperbaiki diri. Permintaan maaf sudah dihantarkan, dan diterima dengan baik dengan sanggahan “Tidak apa-apa, tapi jangan diulangi lagi di kemudian hari” Mungkin memang responnya berlebihan, sehingga saya telpon dan smspun tak ada jawaban. Dan, kita sering kali berprasangka yang tidak seharusnya, mungkin pula ini demi kedamaian pribadi yang menjadikan semuanya menjadi panas namun tak berisi. “Sudahlah, berlaku tulus tidak menjadikanmu rugi, malah melegakan hati” Kata seorang teman mendamaikan.

Yang saya salut dan puji adalah disampaikannya segala sanggahan, mengapa begini dan begitu. Itu pelajaran kedua yang membangun sisi pribadi. Dan itu pecutan yang membuat saya tidak bisa tidur di malam itu. Hahahaha, gelisah ya, iyaap, sakit iya, iya juga. Tapi kagum dengan sikap seperti itu, hanya orang-orang yang tulus yang mau menyampaikan kekurangan seseorang yang tujuannya untuk membangun dan menyadarkan.

Apa kamu sudah bisa terlihat bisa menghidupi anak perempuan orang??

Heyyyyyy, bangun kata saya pagi itu. Waktu jam 2 malam, dan bangun dengan puji-pujian kepada Allah, sungguh, sakit ini nikmat yang bikin mikir. Bikin bangun malam lebih awal, dan mengambil wudlu seraya mensucikan diri. Allah karimmm….

Apa kamu sudah bisa terlihat bisa menghidupi anak perempuan orang??

Air mata tidak lagi menjadi penting, jika realnya kau malah berpaling. Kalo kata ustadz pas cerita ini itu kemarin. “Enak kan??” Sambil ketawa renyah. Dan saya malah girang cekikikan. Heyy, bangun katanya lagi, kita sedang hidup di dunia real. Perjuangkan, coba mikir lagi, apa yang sudah kamu lakukan?

Apa kamu sudah bisa terlihat bisa menghidupi anak perempuan orang??

Adzan subuh pagi itu saya yang mengumandangkan, sungguh serasa jadi lebih enak, karena setiap lantunan saya kumandangkan dengan lebih dalam. DIA mendengar dan menyaksikan. Kenapa jika sesuatu kejadian yang tidak enak bikin kita ingat dan lebih dalam bergantung kepadaNYA, ehh jangan-jangan kamu emang harus diginihin terus, biar mikir, biar deket sama Allah, kata saya membatin.

Apa kamu sudah bisa terlihat bisa menghidupi anak perempuan orang??

Sebenarnya jika ingin menyanggah, saya ingin sekali menyanggah, terutama tentang seisi rumah. Rumah saya dulu belum begini, temboknya tidak rata, dan belum di cat ini itu. Depan belum di kramik, kamar juga belum di kramik, dan sejak usaha 1 tahun lalu Alhamdulillah bisa dicicil dikit demi sedikit, tetapi memang belum sempurna. Kekerabatan orang betawi memang tidak sedalam dengan orang suku lain. Jadi, saya sendiri yang membantu bapak dan ibu, tetapi itu tidak apa-apa. Tidak jadi soal. Dan untuk pertama kali, tahun kemarin saya bisa berkurban kambing atas nama Ibu saya, membelikan kulkas dan mesin cuci. Tetapi itu semua belum menjadi bakti seorang anak ke Ibunya. Sama sekali bukan. Tetapi tidak apa-apa, saya tahu, tidak perlu disanggah, cukup ikhlas saja, karena memang belum sempurna. Dan yang real terlihat mata, memang begitu adanya, tidak sempurna.

Apa kamu sudah bisa terlihat bisa menghidupi anak perempuan orang??

Jawabannya teramat relativ, memang kebutuhannya apa? Jika untuk hidup InshaAllah saya bisa mencukupi, tetapi jika untuk traveling ke luar negeri, itu perlu kerja keras lagi, dan saya ikhtiari tentu, nasib siapa tahu, kita tidak boleh mengecilkan Tuhan karena keadaan sekarang kan.

Apa kamu sudah bisa terlihat bisa menghidupi anak perempuan orang??

Tetapi memang, kita berbeda frekwensi, itu mungkin yang Allah jadikan kita untuk tidak bersama. Maka, saya harus naik kelas, memantaskan diri, jika bukan untuk si dia, ya untuk calon yang lain. InshaAllah, karena saya yakin. Ada orang baik yang belum tentu baik untukmu, bukan karena dia jahat, atau hal buruk lainnya, tetapi ini adalah masalah cocok-cocokan. Jadi secara pribadi saya sadar diri untuk semua ini.

 

Alhamdulillah yaa Allah, saya terima dengan lapang atas yang telah terjadi, terima kasih ya Allah atas pelajaran ini. Terima kasih ya Allah, semua sudah benar adanya. Alhamdulillahirabbilalamin…

Tulisan ini ditulis dalam rangka terapi menulis mengobati diri sendiri. Jika kamu tidak mampu bercerita ke orang lain, maka tuliskan saja. 🙂

 

Iklan

Tentang Irman

Absurd, tapi punya fisik nyata, bisa dilihat, diraba, diplototin, sekaligus bikin ngangenin banyak orang.. Ciyuss
Pos ini dipublikasikan di Curhat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s