Move on itu adalah soal keputusan, tidak lagi tentang perasaan.

​Beberapa waktu kemarin, saya dilanda galau karena maksud hati ingin melamar anak orang malah mendapat penolakan. kalo boleh dibilang sakit ya sakit. Yang lebih menyakitkan lagi sebenarnya bukan lagi tentang si perempuan. Tapi, bagaimana saya menerima kenyataan kalo saya banyak kekurangan. Yang otomatis membuat sang Ibu perempuan mengambil kesimpulan untuk tidak mengiyakan lamaran yang saya layangkan.
Saya intropeksi atas semua, dan sudah memutuskan move on dari itu semua. Itu artinya saya sudah menerima, dan melepaskan, apa yang memang sudah menjadi takdir, bagian dari hidup saya.
Apa masih perih? Kalo dibilang iya ya iya, tapi saya kan memang gak punya pilihan selain melangkah ke depan. Jadi saya move on, ikhlas atas semua yang terjadi.
Kalo ditanya, apa yang saya lakukan supaya bisa move on?
Tahu ngga guys, pas sosok wanita itu mengaku kalo ibunya menolak atas lamaran yang saya layangkan, malam itu saya gak bisa tidur semalaman. Dan Alhamdulillah, setelahnya jam 2 malem, saya berwudhu, shalat minta pertolongan ke Allah. Dan nangis pecah. Hahahahaa… Malu kali sebenarnya, dan keesokan harinya saya sadar, kalo doa saya semalam salah. Karena perasaan yang belum bisa menerima. Bukan minta sama Allah untuk diikhlaskan, malah maksa minta diberikan jalan keluar supaya tetep sama wanita itu. Hahahahahaaa… Payah kali kau lay…
Ngomong2, untuk memperoleh kesadaran itu saya gak mudah, intinya hati belum juga bisa menerima, dan pengennya berlebay-lebay. Xixixixxii..
Alhamdulillah, setelah puasa 3 hari dan konsultasi sama orang yang saya percaya, cahaya penerimaan itu mulai datang pelan-pelan.

Allah karimmm..
Dan, tentu saja, sampai saat ini saya berkaca-kaca, apa hal yang salah dari pribadi saya ini saya terima dan saya adzamkan akan merubahnya ke arah yang lebih baik. InshaAllah. Pelajaran yang amat dan sangat berharga buat saya. Kalo gak begini, saya bakalan “merasa nyaman” terus dengan keadaan sekarang. “Kadang memang, kita harus ditampar dengan kenyataan hidup, supaya kita lebih paham dan bisa memperbaiki diri”
Eehhhh, ngomong-ngomong, sebenarnya, move on itu soal keputusan diri kita sendiri, mau melangkah ke depan atau mau terbawa terus perasaan di masa lalu. Dan, itu hanya tinggal pincet tombol on. Hahahaa.. Walau prakteknya tidak segampang apa yang diomongin. Xixixixixii…
Sementara caranya banyak, satu hal yang amat membantu adalah berkumpul dengan teman-teman positif, kita bisa sharing banyak hal ini dan itu, atau melihat ke bawah keadaan orang lain supaya tetap syukur tidak menyalahkan Tuhan.
Dan saya sudah dapat hikmahnya, saya InshaAllah berkomitmen untuk memperbaiki dalam diri saya. Akan lebih menjadi optimis untuk masa depan yang lebih baik. InshaAllah.
“Kalo sudah lelah untuk bersabar, maka cobalah belajar untuk bersyukur” 
Selamat malam Indonesia.. 😇😇😇

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s