Jatuh, tapi kemudian tertawa.

Tepatnya 2 hari lalu, saya dan ibu pergi ke makam Mbah, yaitu bapaknya Ibu. Katanya dulu, ketika umur Ibu saya sekitar 4 tahun, embah atau bapaknya ibu meninggal dan di makam di kebon dekat pinggir sawah. Medan tempatnya lumayan curam, ribet dah kalo buat sampai ke sana. Pertama, bala banyak rerumputan yang tinggi-tinggi, kedua lewat sawah yang sebagian milik pemodal, jadi dipager sana sini, hehhee… Eh, tapi cukup cerita makamnya. Saya bakal cerita ke intinya saja. Waktu pembacaan tahlil dan surat Yasin seperti ziarah kubur biasanya, saya sama sekali ngga khusyu, pertama ada dua kali bunyi telpon orang, yang kedua kondisi hati saya memang lagi gak konek, hihiii..

Setelah selesai taburi bunga, dan ibu membersihkan dengan sapu sekitar area makam, kita pulang. Dan ketika sampai jembatan sawah kaki saya melangkah pelan, ibu ada di depan. Dan ternyata memang, saya tidak bisa berbohong kalo berat badan saya memang sudah 70 kilogram, huhuuu.. seketika pas langkah kedua jembatan ambruk, saya dan ibu jatuh ke kali, pakaian basah dan sedikit nyesek, walau akhirnya kita berdua tertawa. Kok bisa yah.. Sambil mikir..

Buat saya jatuh ini adalah teguran, atau boleh deh dibilang shock terapi buat pribadi, beberapa hari ini saya jarang khusyu, baca Al-quran cuma baca, ngga dapet feelnya, ngga dapet esensi nilainya. Dan terkesan abai dengan panggilan-panggilan kebaikan. Mungkin lebih tepatnya, karena ada sesuatu hal, jadi saya terkesan marah dengan Tuhan, walau bukan itu juga maksudnya. Hahahaa.. Serem banget kalo marah sama Allah mah, saya siapa sih. Lebih tepatnya marah kepada diri sendiri, mengapa begini dan begitu. Dan jreengg, saya memang tertawa-tawa berdua setelah jatuh, tapi sesaat menjelang tidur, badan pada rentek, bagian kepala yang memang nyublek ke lumpur yang paling terasa keliyengan. Dan lagi-lagi saya tertawa dengan keawaman, dan kebodohan saya pribadi. Hahahaa..

Setelah shalat, saya Istighfari itu semua, saya tarik nafas panjang, dan keluarkan, seraya mengeluarkan emosi negatif yang ada pada diri. Dan diakhiri dengan ritual syukur yang rasa-rasanya melepas segala beban. Alhamdulillah, saya sudah baikan. Saya bersyukur, begitu terus saya ulang-ulang. Dan ritual itu sekarang selalu saya jalankan ketika ada hal yang rasa-rasanya membuat hati kurang enak, terasa sakit untuk menerima sesuatu. Alhamdulillah, walau ikhlas itu memang bukan soal gampang, tapi terapi seperti ini sangat membantu. Nah, yang ngajarin ini adalah Kang Harun, seorang terapi SEFT, dari sebuah grup yang bernama Sahabat Ridha, yang di dalamnya selalu ada kajian bagus yang alhamdulillah, atas petunjuk Allah saya berada di dalamnya.

Iklan

Tentang Irman

Pembaca kehidupan. Apa? Mengapa? Kapan? Siapa? Yang mana? Bagaimana? Ohw Tuhan. Sungguh begitu banyak pertanyaan di otak ini.
Pos ini dipublikasikan di Curhat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s