Budaya Nyekar dan Maqam

​”Nanti, kalo gue mati, lu mah cuma setahun sekali datengin ke kuburan gue ya!”
Tadi malam, menjelang berangkat tahlil di rumah tetangga yang belum lama ini meninggal. Ibu saya berucap, beberapa hal. Intinya malam jum’at ini bakal ada pengajian akbar di makam, biasa menjelang puasa, ada budaya nyekar dan yasinan semalam suntuk di area pemakaman.
Saya dengan maksud bercanda, malah ditanggapi serius sama Ibu.
“Besok gak dateng aahh” cetus saya sambil senyum kuda.
“Emang lu mau kemana? Cuma dateng setahun sekali aja susah banget, siapa yang baca yasinan entar, kalo gue ngga bisa. Tuhh, coba lihat si x, dia mah tiap jumat datengin makam uwanya. Elu, setahun sekali juga susah amat”
“Deegg” Saya diam seribu kata.
“Nanti, kalo gue mati, lu mah cuma setahun sekali datengin ke kuburan gue ya!” Emak saya melanjutkan..
Makin merinding sayah.

Belum siap, saat itu tiba. Atau memang kita kan belum tahu, entah saya dulu, atau siapa dulu. Kita tidak pernah benar-benar tahu umur sampai di mana.
Mendengar pernyataan Ibu malam tadi, saya jadi mikir, nanti kalo saya mati bagaimana ya.
Satu yang saya kurang sepakat adalah kebanyakan di kampung, kalo maqam seperti dijadiin rumah buat yang ada di maqam, maksudnya. Maqam di bangun tembok keramik, katanya supaya ketara dalam jangka waktu lama. 
Saya pribadi, jika meninggal nanti, ingin dimakamin seperti layaknya saja. Kuburan saya gak usah ditembok. Cukup berurugan tanah merah yang di kasih batu nisan di atas kepala. Semoga saya jadi pribadi manfaat, yang jika mati nanti, dikenang atas kemanfaatannya, dikenang karyanya. Bukan dikenang bentuk kuburannya.
Nak, ini pesan buat kamu kelak jika ayah berumur panjang. Kamu mengerti kan?….

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Imajiner Ikhlas…..

​Harus ikhlas dengan segala yang terjadi. Kadang dalam hidup ini ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan walau sekuat apapun kita berusaha”
Rina Shu..
Setitik embun ketika itu jatuh tepat ke hati, sungguh menyegarkan apa yang ada di dada. Tapi seketika itu panas matahari menyinari, membuatnya kembali kering dan mati. 
Siapa yang mati? Tidak, tidak apa-apa. Kamu tahu sinar matahari itu baik untuk tumbuhan? Jadi, kamu jangan main menghakimi hanya karena matahari menyinarkan panas. Itu namanya judge tanpa pengetahuan. 
Banyak belajar lagi, supaya kamu tahu ilmu ikhlas.

“Heyy apa kabar?” Tanyanya lagi menyapa..
Jika ditanya, siapa sosok terbaik untuk si Aku, maka jawabannya masih dia. Tetap dia, karena menurut si Aku, dia adalah wanita terbaik untuk dijadikan Ibu untuk anak-anaknya. Cerdas, berkarakter. 
“Perubahan hidup dimulai dari seorang ibu dan istri yang berkarakter kuat” Katanya lagi melanjutkan.
Tapi siapalah si Aku, dia tau diri. Pengetahuannya hanya sebatas mata, dia tidak tahu apa-apa. Sedangkan Tuhannya Maha Mengetahui.
“Jadi kamu tidak beriman kalo Tuhanmu Maha Mengetahui?” Tanyanya lagi..
Sungguh, mengapa jadi sesakit ini, yang lebih menyakitkan adalah ketika si dia terlihat begitu mudah merubah sikapnya. Sedangkan Aku mati-matian membunuh rasa.
“Heyy Jawab, jadi kamu tidak beriman kalo Tuhanmu Maha Mengetahui?” Hentaknya tak sabar..
Astagfirallah, sungguh pengetahuanku terbatas, sedangkan pengetahuan Tuhanku melampaui nalar semesta.
“Jadi, sudah cukup kan, ngertikan?” 
“Iya, Aku hanya butuh waktu barang sebentar” Jawabnya lagi pelan…
“Banyak baca Al-Quran, dan pahami maknanya. Supaya hatimu tenang” Terangnya lagi, seraya menghilang dari tatapan…
Malam hening, di sebuah pelataran, langit dan bulan yang menjadi atapnya.
Allah Kariiimmm……..

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pelajaran Mahal

“​Mas mah enak, kalo patah atau gak semangat paling sebentar, temen mas mah lucu2, itu lihat di komentar fbnya”
Kata seorang kawan….

Dia tidak tahu, setelah keputusan yang menyakitkan itu keluar saya berpuasa 3 hari. Seraya membuang segala harapan yang salah, atau mungkin meluruskan hati, membeningkannya kembali daripada perasaan yang tidak seharusnya.

Beberapa malam saya tak bisa tidur, dan bersyukurnya itu bisa dijadiin ladang waktu zikir. Masya Allah tabarakallah, ini semua membuat hati menjadi lebih baik. Bahwa sesungguhnya cukup Allah sebagai sandaran, cukup Allah sebagai penolong. Hasbunallah, wani’mal wakil, ni’mal maula wa’nimanasir, walahaula walaquwata Illa Billah.

Tidak ada yang saya sesali, kecuali sebagai bahan intropeksi. Kata-kata itu, teriang di dalam hati saya, seraya sebagai pecutan yang lumayan dalam.

“Apakah kamu sudah bisa menghidupi anak perempuan orang, dengan keadaan yang dilihat secara riil kamu masih begini?”

Sesak sekali diawal mendengarnya, malam itu, malam nisfu sya’ban, saya cuma tidur ayam. Yang bangun, melek, tidur ngantuk merem ayam, sampai jam 2 pagi, saya putuskan untuk bangun berwudhu, duuuuh, ternyata pelajaran yang paling dalam adalah ketika isak tangis itu tertuju ke Allah. Saya adzamkan dalam hati, bahwa saya ikhlas dengan yang memang Allah takdirkan. Keberserahan diri ini memang bukan perihal gampang. Bahkan, untuk sekedar tak peduli lagi dengan sosok itu.

Memang, akan selalu ada bekas dari yang namanya luka, tapi Allah Maha Baik, akan menyembuhkannya dengan keikhlasannya kita untuk menerima.

Pelajaran yang teramat mahal buat saya pribadi, harga sebuah pelajaran yang harus dibayar dengan perasaan patah.

Tapi yang teramat mahal lagi adalah perasaan menerima atas takdir Allah, atas setiap yang terjadi.

Setiap waktu adalah pelajaran, semua akan terlewati. InshaAllah.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

PESAN DARI SEBUAH KEMATIAN

Ba’da Ashar kemarin, terlihat gerumungan orang berkumpul di rumah yang memang dari dulu sudah saya amat kenali. Biasanya memang, orang-orang sering bolak balik beli ini dan itu di rumah yang digerumungi banyak orang itu, beliau buka warung, tepatnya di belakang rumah saya. Orang-orang biasa memanggilnya Emak Eno, sosok yang baik. Saya pribadi mengenalnya dari masih kecil, setiap pagi jajan nasi uduk, ba’wan, dan segala macemnya. Sepanjang mengenalnya, beliau adalah sosok yang baik, selain murah, kalo beli apa-apa orang kadang malah dikasih ini itu.

Tapi ada yang berbeda di sore kemarin. Gerumunan orang membuat saya meransek ke dalam, sosok perempuan 60an tahun itu sedang sakratul maut, dan karena kebetulan dari masjid shalat asharan dan masih punya wudhu, saya disuruh mentalqinkan di telinganya Ashadu Alla ILLA HAILLALLAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADARASULLALLAH,  demikian saya lantunkan berulang-ulang, sampai akhirnya nafasnya sudah berhenti. Sepanjang hidup ini saya pernah 2 kali ini berhadapan dengan orang yang sakratul maut. 


Dan selalu ada nilai spiritual yang lebih jika berhadapan dengan hal beginian. Suara tangis anak dan saudaranya teriang di telinga, satu anak laki-lakinya malah belum tahu karena sedang bekerja. Sejam kemudian baru sampai rumah, dan air matanyapun jatuh menitik di pipi. Mungkin itu mengapa, alasan orang tua selalu ingin berada dekat anaknya. Alasan pertama adalah supaya di saat-saat terakhir ditemani oleh anaknya. Walau bagaimanapun kita tidak tahu umur akan sampai dimana? Semoga kita bisa mengucapkan kalimat tauhid, syahadat di saat menjelang kematian, jika tidak diucap di mulut, semoga bisa kita ucapkan di dalam hati. Itu, adalah saat penting yang menentukan Kebaikan baik atau yang sering kita sebut Khusnul Khatimah di akhir. InshaAllah…

Pentingnya Talqin bisa kita simak di penggalan hadist Nabi:

Talqinilah orang yang hendak meninggal dengan La Ilaha Illallah dan berilah berita gembira tentang surga, sesungguhnya orang mulia, baik dari kaum laki-laki dan wanita kebingungan di dalam menghadapi kematian dan mengalami ujian. Sesungguhnya setan paling dekat dengan manusia pada saat kematian, dan melihat malaikat kematian lebih berat dari pada penggalan pedang 1000 kali”.

(HR. Abu Naim). 




Sore menjelang maghrib jenazah sudah rapi dimandikan dan dikafani, saya dengan beberapa orang ambil keranda kurung batang dan memasukannya ke dalam kediaman beliau. Ada momen yang buat saya sedikit gusar, ketika kain penutup keranda, tidak ditemukan di sana sini. Saya bulak balik masjid, sampai pada kesimpulan ditutup kain saja. Tapi akhirnya ditemukan, ternyata ada di rumah warga yang memang sudah dibawa.

Setelah dishalatkan ba’da maghrib jenazah dibawa ke pemakaman keramat kampung karet, kami mengiringi sambil membacakan kalimat tauhid di sepanjang jalan. Di pemakaman, saya berdiri di depan, sambil membantu proses pemakaman. Sebenarnya saya ingin turun ke bawah, ke liang lahat, tapi itu hak keluarganya. Saya tak mau melampaui. Dan yang serasa teriris hati adalah ketika sang anak mengadzankan dan mengiqamatkan langsung, suaranya sesak, dalam sekali. Itu tandanya perpisahan telah tiba, di adzankan, di iqamatkan, lalu diurug dengan tanah merah, dan kemudian ditinggal di tempat segi panjang berdindingkan tanah. Selalu ada momen yang membuat hati bergetar ketika mengingat pesan kematian. Suatu hari, saya juga atau siapapun yang hidup akan merasakannya juga. Harapan saya pribadi, semoga nanti jika panjang umur, saat-saat seperti ini bisa diadzankan dan diiqamatkan oleh anak laki-laki saya sendiri, yang bermanfaat buat orang banyak. Aamiin.

Mati adalah kemungkinan pasti, yang tidak bisa kita hindari. Sekuat apapun, sehebat apapun, dan sekaya apapun manusia, mati adalah keniscayaan.

Pesan dari sebuah kematian.

Suatu hari nanti mungkin anak saya membaca ini, dan semoga dia bisa melihat pesan tersirat di dalamnya.

Sampai bertemu lagi.. J

Dipublikasi di Curhat | Meninggalkan komentar

Tulisan Dalam Rangka Mengobati Diri sendiri (Terapi Menulis)

Jika ditanya apakah hati si aku baik-baik saja. Tentu jawabannya belum sepenuhnya. Perjalanan kemarin membuat sisa luka di hati. Tapi yang mengizinkan sesuatu itu menjadi luka ya si aku sendiri, hahahahaa, jadi salah siapa? Ya salah si aku dong. Tetapi tidak mengapa, di atas semua itu pelajarannya luar biasa. Pertama dalam hal pemantasan diri dari segi materi. Si aku belum sepenuhnya berbakti, kondisi rumah harus direnov, terutama isinya, jadi kamu berjuang lagi ya dek, wkwkwkwkw… Iya sih.. Kamu harus kerja keras, karena orang yang kerja keras terlihat dari segi materinya. Lah kamu selama ini melakukan apa aja?? Prestasi? Belum ada..

Apa kamu sudah bisa terlihat bisa menghidupi anak perempuan orang??

Self reminder

Di pelataran rumah, saya lihat kondisinya baik-baik saja. Adat yang berbeda semakin meruncing perbedaan. Di atas semua itu, saya intropeksi diri. Sungguh, saya teramat bersalah atas semua ini, tetapi pelajarannya dapet, saya belajar untuk memperbaiki diri. Permintaan maaf sudah dihantarkan, dan diterima dengan baik dengan sanggahan “Tidak apa-apa, tapi jangan diulangi lagi di kemudian hari” Mungkin memang responnya berlebihan, sehingga saya telpon dan smspun tak ada jawaban. Dan, kita sering kali berprasangka yang tidak seharusnya, mungkin pula ini demi kedamaian pribadi yang menjadikan semuanya menjadi panas namun tak berisi. “Sudahlah, berlaku tulus tidak menjadikanmu rugi, malah melegakan hati” Kata seorang teman mendamaikan.

Yang saya salut dan puji adalah disampaikannya segala sanggahan, mengapa begini dan begitu. Itu pelajaran kedua yang membangun sisi pribadi. Dan itu pecutan yang membuat saya tidak bisa tidur di malam itu. Hahahaha, gelisah ya, iyaap, sakit iya, iya juga. Tapi kagum dengan sikap seperti itu, hanya orang-orang yang tulus yang mau menyampaikan kekurangan seseorang yang tujuannya untuk membangun dan menyadarkan.

Apa kamu sudah bisa terlihat bisa menghidupi anak perempuan orang??

Heyyyyyy, bangun kata saya pagi itu. Waktu jam 2 malam, dan bangun dengan puji-pujian kepada Allah, sungguh, sakit ini nikmat yang bikin mikir. Bikin bangun malam lebih awal, dan mengambil wudlu seraya mensucikan diri. Allah karimmm….

Apa kamu sudah bisa terlihat bisa menghidupi anak perempuan orang??

Air mata tidak lagi menjadi penting, jika realnya kau malah berpaling. Kalo kata ustadz pas cerita ini itu kemarin. “Enak kan??” Sambil ketawa renyah. Dan saya malah girang cekikikan. Heyy, bangun katanya lagi, kita sedang hidup di dunia real. Perjuangkan, coba mikir lagi, apa yang sudah kamu lakukan?

Apa kamu sudah bisa terlihat bisa menghidupi anak perempuan orang??

Adzan subuh pagi itu saya yang mengumandangkan, sungguh serasa jadi lebih enak, karena setiap lantunan saya kumandangkan dengan lebih dalam. DIA mendengar dan menyaksikan. Kenapa jika sesuatu kejadian yang tidak enak bikin kita ingat dan lebih dalam bergantung kepadaNYA, ehh jangan-jangan kamu emang harus diginihin terus, biar mikir, biar deket sama Allah, kata saya membatin.

Apa kamu sudah bisa terlihat bisa menghidupi anak perempuan orang??

Sebenarnya jika ingin menyanggah, saya ingin sekali menyanggah, terutama tentang seisi rumah. Rumah saya dulu belum begini, temboknya tidak rata, dan belum di cat ini itu. Depan belum di kramik, kamar juga belum di kramik, dan sejak usaha 1 tahun lalu Alhamdulillah bisa dicicil dikit demi sedikit, tetapi memang belum sempurna. Kekerabatan orang betawi memang tidak sedalam dengan orang suku lain. Jadi, saya sendiri yang membantu bapak dan ibu, tetapi itu tidak apa-apa. Tidak jadi soal. Dan untuk pertama kali, tahun kemarin saya bisa berkurban kambing atas nama Ibu saya, membelikan kulkas dan mesin cuci. Tetapi itu semua belum menjadi bakti seorang anak ke Ibunya. Sama sekali bukan. Tetapi tidak apa-apa, saya tahu, tidak perlu disanggah, cukup ikhlas saja, karena memang belum sempurna. Dan yang real terlihat mata, memang begitu adanya, tidak sempurna.

Apa kamu sudah bisa terlihat bisa menghidupi anak perempuan orang??

Jawabannya teramat relativ, memang kebutuhannya apa? Jika untuk hidup InshaAllah saya bisa mencukupi, tetapi jika untuk traveling ke luar negeri, itu perlu kerja keras lagi, dan saya ikhtiari tentu, nasib siapa tahu, kita tidak boleh mengecilkan Tuhan karena keadaan sekarang kan.

Apa kamu sudah bisa terlihat bisa menghidupi anak perempuan orang??

Tetapi memang, kita berbeda frekwensi, itu mungkin yang Allah jadikan kita untuk tidak bersama. Maka, saya harus naik kelas, memantaskan diri, jika bukan untuk si dia, ya untuk calon yang lain. InshaAllah, karena saya yakin. Ada orang baik yang belum tentu baik untukmu, bukan karena dia jahat, atau hal buruk lainnya, tetapi ini adalah masalah cocok-cocokan. Jadi secara pribadi saya sadar diri untuk semua ini.

 

Alhamdulillah yaa Allah, saya terima dengan lapang atas yang telah terjadi, terima kasih ya Allah atas pelajaran ini. Terima kasih ya Allah, semua sudah benar adanya. Alhamdulillahirabbilalamin…

Tulisan ini ditulis dalam rangka terapi menulis mengobati diri sendiri. Jika kamu tidak mampu bercerita ke orang lain, maka tuliskan saja. 🙂

 

Dipublikasi di Curhat | Meninggalkan komentar

Menjadi Agen Kebaikan

Namanya Pak Hafidz Mansur, pemilik Kedai Mamak, warung makan khas Medan di daerah Tebet Jakarta selatan. Yang unik dari beliau bukan lagi pada jenis usahanya, karena kalo ngomongin resto atau warung makan yang khusus kedaerahan sepertinya sudah banyak, tapi yang unik darinya adalah tentang sosoknya sendiri  yang senang sekali membantu banyak orang, lebih khusus lagi anak yatim. 

 Saya sempet terheran-heran dengan keputusannya membuat program promo di setiap hari selasa dan jumat “Makan suka-suka, bayar suka-suka” Entah ini jenis program promosi yang seperti apa, beliau bilang ini marketing langit, yang tujuannya bukan niat uang atau promo, tapi lebih dari itu ingin berbagi sesama. Suatu ketika saya pernah dengar cerita beliau tentang program ini. Katanya pernah suatu waktu karyawannya mengeluhi tentang bocah-bocah kecil yang makan di warungnya yang membayarnya pake recehan uang logam, 500 perak, 1000 an. Mereka bukan cuma satu dua orang, tapi buanyaak, si karyawan mengeluhi tentang ini, tapi tahu apa jawaban Pak Hafidz “Kalo kita ngelayanin tidak sepenuh hati, maka kita tidak dapet nilai tujuan dari apa yang kita sudah buat ini, kita gak dapet keutamaan di mata Allah, kalian harus layani sepenuh hati, tujuan kita adalah berbagi, maka itu yang kita pegang” Katanya menjelaskan. Luar biasanya dia bilang, setiap selasa atau jumat omzetnya tetap lumayan, tidak pernah kurang. 

Beliau pernah bilang, suatu waktu dia pernah mengalami kegelisahan “Kok gue gini-gini aja ya rasanya, punya warung makan, dapet uang, tetapi serasa ada yang masih kurang dari itu semua” Maka bukti syukurnya ke Allah setelah itu adalah beliau membuat komunitas sosial namanya Agen kebaikan, yang tujuan utamanya adalah berbagi kebaikan ke sesama, terutama anak yatim, kaum dhuafa atau program pemberdayaan difable dan aktivitas sosial lainnya. Kalo temen-temen mau gabung di Agen kebaikan boleh kok, inbox aja ke sini @Agen kebaikan. Atau mau add @kedai mamak langsung sekalian tanya-tanya makanan khas medan yang siapa tahu mau dicoba. Kalo ke Tebet jangan lupa mampir ke Kedai Mamak, makanannya enak, khas medan banget. Setiap selasa dan Jumat ada program “Makan suka-suka bayar suka-suka” Mau coba? Hayookk

Mengingat Hadist Nabi “Aku dan pengasuh anak yatim sedekat ini (sambil mengisyaratkan jari tengah dan telunjuk)”

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan” (Quran Surat Arrahman)

“Tidak akan pernah berkurang harta yang disedekahkan kecuali bertambah..bertambah.. dan bertambah (HR. Al. Tarmidzi)

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Menerima Takdir Langit

“Jika kondisinya adalah sebuah pilihan, maka kamu tidak perlu memilihku untuk itu”

Kata-kata itu meluncur begitu saja, mudah sekali mulut ini mengatakannya. Kondisinya memang benar adanya. Jika seseorang disuruh memilih di antara keduanya. Ibu atau laki-laki pilihannya, maka saya katakan pilihlah ibunya. Itu terjadi kepada saya, atau lebih tepatnya ke satu sosok yang memperjuangkan laki-laki untuk dijadikan suaminya. Kondisinya jelas, saya ditolak karena berasal dari suku betawi yang dicap negatif oleh orang-orang di luar suku itu. F namanya, seorang wanita kelahiran batak. “Keputusan mama sudah final mas” Katanya lesu…

Saya yang membaca pesannya mencoba memberikan emood lucu, pura-pura tegar, walau hati serasa ditarik keubun-ubun. Sakit, menusuk sanubari.

“Tidak, apa-apa, kita sudah berjuang sejauh ini, seperti yang aku katakan sebelumnya. Jika kondisinya adalah sebuah pilihan, maka kamu tidak perlu memilihku” Jawabku bijak, mungkin tepatnya pura-pura bijak.

“Jika ada satu sosok yang akan menemanimu kelak, tolong infokan ke aku, supaya aku tau bagaimana caranya berhenti berharap” Katanya lagi melanjutkan.

Saya terdiam, hati serasa dihantam godam yang paling perih. Sungguh itu adalah pesan yang menyakitkan, sampai tulisan ini ditulis, saya tidak menjawabnya, biarkan saja, ini sudah benar adanya. Hati saya menyakinkan diri, mencubit pipi kiri kanan. Ini nyata…

Bapak saya sudah banyak bicara, dan mempersiapkan banyak hal untuk hal ini, mamanya sudah ke rumah, kita sudah bertemu antar keluarga, tapi Allah yang menetapkan segala perkara, apa yang harus saya lakukan, selain menerimanya. Ini menyakitkan tapi saya yakin ini adalah kebaikan, jika tidak untuk dua insan yang mencintai, maka ini adalah kebaikan untuk kemaslahatan dua keluarga. Tidak mengapa, yaap.. Tidak mengapa, meski hati ini terasa lumpuh, sakit sekali rasanya kawan. Maka setalah salat lohor tadi saya coba adzamkan untuk salat taubat 2 rakaat. Mohon ampun kepada Allah, atas seganap rasa cinta yang berlebihan, dan doa kebaikan kepada kami berdua, supaya bisa menerima atas perkara yang memang Allah tetapkan ini.

“Terima kasih untuk semua. Kamu sudah berjuang sejauh ini, itu luar biasa” Kataku lagi mengakhir percakapan.

 

Saya tidak tahu siapa jodoh saya, saya tidak tahu takdir apa yang Allah tetapkan selanjutnya, dalam perjuangan ini akhirnya pelajaran yang saya ambil adalah bahwa saya harus intropeksi. Bukan di luar kita yang salah, tapi kitanya saja yang belum siap. InshaAllah, Allah akan tetapkan kebaikan kepada hati masing-masing kita. Fu, siapapun jodohmu nanti, semoga bertujuan Lillah, karena Allah, dan begitupun jodohku kelak. Ingat pesan ketika umar mengadu kepada Nabi soal Jainab.

“Wahai Umar, sesungguhnya Usman akan menikah dengan seseorang yang lebih baik dari Jainab, dan Jainab akan menikah dengan seseorang yang lebih baik dari Usman”

Kenyataannya, Usman menikah dengan Ruqoyah putri Nabi, dan Jainab menikah dengan Nabi.

Jodoh memang misteri, Yaa Allah pertemukan kami dengan jodoh yang memang engkau tetapkan.

Pesan whatsapp dari F yang akhirnya saya publish juga.

“Assalamu’alaikum Mas
Maaf aku menghubungimu sekarang. Aku gak tahu ini waktu yang tepat atau tidak. Namun, aku tidak mau menggantungmu dan menggantung harapan orgtuamu.
Kemarin keputusan mama sudah final. Mama tidak Ridho kalau kita melanjutkan hubungan ini k arah yang lebih serius.
Aku sebagai anak hanya bisa manut. Aku marah, kesal dan ingin menyalahkan namun aku sadar posisi. Keluargaku agak keberetan dengan hubungan kita.
Aku ingin menyampaikan ini pd tanggal yg sdh kita tentutkan tp aku merasa sangat jahat karena seolah2 aku tetap memberimu harapan. Aku tidak ingin bangkit sendiri, aku juga ingin kamu bangkit. Allah yang menakdirkan kita bertemu, Allah yg menitipkan perasaan yakin dan Allah juga yg perlahan memperlihatkan jalannya.
Kalo aku bilang, aku ikhlas kamu cari calon istri yg baru, itu pasti bohong. Namun kita harus sama sama paham bahwa terkadang apa yg kita inginkan bisa tidak sesuai dengan keinginan Allah.
Terlepas dengan siapa kelak kita akan menikah, aku mau kita sama sama mencoba untuk ikhlas. Allah yg kuasa atas hati kita. Hasbunallah wa ni’mal wakiil.
Bukan kamu yg tidak pantas utkku tpi aku yg Tdk pantas untuk kamu. Kamu orang baik Mas, insha Allah akan bertemu dengan wanita baik juga 😇
Sampaikan salam dan permintaan maafku kepada Ibu dan Bapak. Mereka orangtua yang baik, semoga Allah menganugerahi mereka menanti yg baik pula. Aamiin
Tolong kabari aku jika kamu sudah punya calon istri yah agar aku tahu kapan waktunya berhenti berharap.
Semua kembali kepada Allah. Allah yg berkuasa dan kita tidak kuasa. Aku sedang meyakinkan diriku sendiri Allah sdng menuliskan takdir terbaik untuk kita berdua, apapun itu takdirnya.
Terima Kasih atas semua kebaikan yg Mas berikan. Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang berlipat-lipat.

Selamat menjemput takdir selanjutnya Mas :)”

Dipublikasi di Curhat | Meninggalkan komentar

Diujung Tanduk

Saya harus berlaku lapang, ini sudah mulai kurang baik menurut saya. Si F, sebut saja begitu, sempat kesel dengan mamanya, dan ngomong ke saya kalo dia rasa-rasanya pengen kawin lari, sebel dengan sikap orangtuanya yang rasis akan kesukuan. Beranggapan suku batak adalah suku paling beradab sedangkan suku lainnya jeleeekk. Saya yang kelahiran betawi ini tentu sangat menyayangkan sikap rasis calon mertua saya itu. Dia tidak setuju jika anaknya saya nikahi hanya karena saya seorang yang lahir di tanah betawi.

Sebel dan kesel awalnya, tapi setelahnya saya kemudian berkaca, intropeksi dengan semua yang terjadi. Mungkin, bukan f jodoh saya, wallahualam. Saya harus mengukur diri saya pribadi dalam hal ini. Si f sosok mandiri dan berkarakter, cocok banget dijadikan seorang ibu untuk calon anak-anak saya kelak. Terlepas dari kesukuan saya merasa amat cocok dengan dia.

Saya ingat seorang teman yang bilang, mungkin kita yang belum siap, coba intropeksi diri, kitanya yang harus memperbaiki diri. Tidak mengapa, setelah ini saya jadi berkaca, banyak hal yang harus saya perbaiki. Terutama banyak hal, keterampilan hidup yang saya harus kuasai.

Terima kasih F, saya jadi belajar.

Berikut pesan saya ke mama si f yang tak kunjung dibalas, ohh baik saya memang tidak perlu balasan atas pesan saya ini. Saya sudah berusaha, mama si f malah sudah berkunjung ke rumah saya. Tadi saya telpon mamanya tapi tak kunjung dijawab, dan akhirnya pesan ini saya lancarkan saja ke mamanya, entah dibaca atau tidak, saya tidak tahu.
Pertama saya mohon maaf, atas kesalahan saya gara2 saya hubungan mama dan f jadi begini. Saling tegang berkepanjangan.
Yang kedua, saya mau tanya, intinya mama mau seperti apa? Apa ingin saya menjauh dari f? Kalo iya, saya akan ikuti, tapi beri saya alasan, supaya saya bisa terima.
Kemarin f sempet cerita kalo dia bilang kalo saya mau kuliah lagi. Itu semua wacana f, saya pribadi gak ada niatan buat kuliah lagi, kondisi saya sekarang adalah pedagang, usaha dengan jalur online, saya seneng belajar, tapi tidak untuk kuliah lagi. Saya lebih seneng belajar dengan mengikuti workshop atau yang sesuai dgn apa yg sedang saya tekuni sekarang. Bukan kuliah.
Anggapan keluarga mama yang bilang kalo saya cuma parasit yg numpang hidup, yang katanya nanti f yg akan malah bekerja keras, itu saya rasanya kok kesel yaa.. Saya laki-laki, dan tanggung jawab ekonomi ada di saya. Memang pendapatan saya belum besar, tapi InshaAllah cukup untuk hidup. Saya harus luruskan, tidak ada niat sama sekali buat numpang hidup ke f, atau kalo memamg f gak kerja lagi InshaAllah saya siap kok. 
Maa, saya lahir di suku dan orangtua sekarang, gak pernah pesen minta sama Allah, sama halnya mama juga gak pernah minta untuk dilahirin di suku batak. Saya tidak bisa menyalahkan Allah, untuk hal ini yang menjadikan saya lahir di suku dan org tua yg sekarang saya hidup. Ini adalah takdir yang harus saya terima dan jalani sama halnya mama menerima kalo mama lahir di suku batak. 
Jadi atas semua itu, saya gak mau membuang energi mama, membuang energi f, membuang energi kita semua atas semua ini. Karena terakhir f mengaku lelah, atas semua ini, pusing dan merasa bersalah karena didiemin berlama2. Kita gak perlu diem2an atau marahan untuk semua ini kan, Kita cukup ngomong dengan apa yang terjadi dan persepsi kita selama ini. Dan kiranya apa yang diinginkan? Terutama mama, apa yang mama inginkan. Saya rasa kita sudah dewasa untuk semua hal ini. 
Saya kira jika memang mama ingin saya dan f pisah, itu memang menjadi jawaban atas istikharah saya dan f dan mungkin juga mama, atas semua ini. Yang menitipkan rasa dan perasaan itu semua Allah, dan atas Khendak Allah juga semua terjadi. Jadi dalam urusan ini, saya sudah berusaha, mama sudah kenal saya, bahkan sudah mengunjungi rumah saya. Itu suatu penghargaan buat saya.

Dan saya minta mama mengambil kejelasan atas hubungan ini, supaya f bisa baik lagi ke mama. Saya tidak sedang mengambil anak org, f anak mama, tentu mama yg berhak untuk mengambil keputusan atas dia.
Terima kasih

Irman 

Dipublikasi di Curhat | 5 Komentar

Menjemput Ikhtiar dan Menerima TakdirNya

Alunan surat Yasin oleh Syeikh Mishari Alfalasi menemani di sore ini. Suaranya menentramkan hati, menembus jasad-jasad yang haus akan ayat-ayat suci. Allah Kariem… Semua telah terjadi, terima kasih Ya Allah. Masih ingat ayat Alqur’an yang menerangkan bahwa ketika seorang anak Adam ditiupkan ruh, maka ditetapkan pula, maut, jodoh, dan segala takdirnya. Terima kasih Yaa Allah, karena saya sedang menjalani takdir saya sendiri. Di umur yang ke 27 tahun ini saya berencana menikah, dengan siapa? Ada satu sosok, namanya F, seorang perempuan yang barangkali memang belum bisa saya sebutkan namanya. Orang medan, makanya sering dipanggil butet. Sudah kerumah dan bahkan orang tua juga sudah saling bertemu. Tetapi, Allah adalah pembolak balik hati. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya di kisah ini. Tepatnya kami sedang memikirkan ulang semua, si F terakhir menghubungi saya, meminta izin untuk memblock semua akun medsos dan WA. Tentu saya izinkan, karena alasannya masuk akal, mencoba mencari ketenangan, dan supaya istikharahnya tidak condong ke perasaan. Begitu juga saya, bahkan hal ini sudah kami rumuskan jauh-jauh hari. Jangan sering ketemu, jangan saling bertukar pesan WA, ini sudah kami jalankan sebelumnya. Dan kali ini kami menjalaninya dengan lebih exstrem lagi, bahkan sampai block-blockan, terutama dia yang memblock akun medsos saya. Hehehee… Tidak mengapa, ini semua sudah menjadi proses yang memang Allah gariskan, saya sikapi dengan menerimanya.

Jodoh, maut atau apapun takdir yang sudah Allah gariskan pasti akan terjadi, entah dengan proses seperti apa dan bagaimana? Yang saya yakini sekaya, seexclusive  atau sekuasa apapun seseorang tak akan mampu menghalang-halangi takdir yang memang Allah gariskan. Jadi diproses ini saya berusaha sekuat-kuatnya, seikhtiar-ikhtiarnya. Namun masalah hasil itu bukan wilayah saya. Saya gak kuasa atas hati seseorang, atau mungkin takdir yang Allah gariskan. Maka langkah selanjutnya yang saya akan lakukan adalah menjalani prosesnya. Hasilnya itu bukan kuasa saya. Wallahu’alam.

Apa yang akan saya lakukan?

Menerima takdir, kemudian mengevaluasi semua langkah yang memang sudah dijalani. Kalo berjodoh saya akan perjuangkan sepenuh hati, menjalani prosesnya yang memang sudah digariskan kepada saya. Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin, ikhlas seperti ikhlasnya bumi kepada sesuatu yang ada di atasnya.

Saya tidak mau terjebak sosok, dan ini semua sedang diistighfari, condong, bawa perasaan, ini sedang saya istighfari, sesuatu yang memang salah sekali, dasarnya bukan Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Sandarannya naluri perasaan yang belum tentu berada di jalan kebenaran. Maka proses ini saya terima, Alhamdulillah, apapun hasilnya Allah yang kuasa atas segala sesuatu. Saya terima semuanya, InshaAllah. Allah berikan yang terbaik, buat saya dan buat si F, InshaAllah. InshaAllah..

 

Kamis pagi, dibatas awal waktu dhuha.

Dipublikasi di Curhat | Meninggalkan komentar

Hari ulang tahunmu

Seperempat abad, seperti yang kau bilang. Ini adalah momen di mana waktu yang tepat untuk melangkah berikutnya. Kau pernah katakan padaku, seperempat abad, menjadi bintang terang. Kau boleh hidup dalam kesederhanaan, tapi mimpimu harus besar, kukutip dari status facebookmu tempo hari.

Mimpi terbesarku saat ini adalah meminangmu, maka kalo ditanya apa dan mengapa tentu akan kujawab dengan jawaban yang ingin kau dengar, karena Aku memilihmu, karena ingin memperbaiki peradaban, karena hidup sekali, karena Aku memilih bidadari yang tercipta khusus buatku, dan Aku harap itu kamu. Dan masih banyak karena, karena lain yang bahkan aku tidak mengerti mengapa? Apa perlu dipertanyakan kembali? Meski aku tahu, seribu jawaban tidak bisa membasmi segala kegundahan, kecuali akad yang berkumandang.

Heeeeeeyy Janu, Apa kabar? Katamu sore itu via pesan Whatsapp, Janu? Hatiku mengkerut, apa ini maksudnya, Aku belum mampu menterjemahkan. Janu? Meski aku tidak pernah menanyakan, apa itu Janu? Apa itu artinya. Sungguh aku pribadi penasaran, walau memang aku tahu, itu bermakna kebaikan. Maka, seperti apa yang dikatakan Al-quran Tidak ada kebaikan kecuali berbalas kebaikan (Surat Arrahman ayat 66). Maka, sebelum subuh itu, kupanjatkan doa-doa untukmu, dari sebuah kesederhanaan, meski doa tidak bisa dimakan. Tapi tooh, tiap orang bisa melakukannya. Doa memang tidak bisa dimakan, tapi doa yang melangit melebihi dunia beserta isinya. Apa lagi yang dipanjatkan malam-malam hening, dekat, dekat sekali kepada Tuhan.

Sungguh, ingin sekali bercakap berlama-lama, namun kita sudah bersepakat untuk tidak komunikasi intens beberapa saat, demi menjaga marwah pernikahan ke depan. Yaa Allah, anugerahi kami kemampuan untuk menyatu dalam perbedaan, untuk menyatu dalam pernikahan yang dengannya RidhaMu datang menenangkan, Sakinah Mawaddah, Warahmah, seperti doa-doa di setiap pernikahan para Nabi dan sahabatnya. Aamiin…

Dipublikasi di Curhat | Meninggalkan komentar