Mengakhiri Drama Kehidupan

​Salah satu cara untuk mengakhiri semua drama dalam hidup Anda adalah dengan berhenti menempatkan diri menjadi orang yang paling menderita, menjadi korban dari setiap peristiwa. 

Merasa paling miskin, paling malang, paling menderita, atau apalah sebutnya akan malah mengundang kemiskinan, kemalangan, atau penderitaan itu sendiri. Kenapa? Yaa, itu ya memang begitu rumusnya, sunatullahnya mungkin ya.

Apa saya gak pernah berpikir seperti itu? Jawabnya pernah, terus apa yang dilakukan kalo pikiran seperti itu datang. Istighfar aja, dan berpikir yang baik-baik, seiring waktu semakin kita terbiasa memenej pikiran kita untuk berpikir positif maka akan terpatri akan semakin positif. InsyaAllah, akan selalu ada jalan untuk orang-orang yang ingin memperbaiki diri.

Kenapa saya tiba-tiba menulis tulisan di atas, tidak lain dan tidak bukan adalah karena ada seorang bapak-bapak menchat saya dan meminta bantuan dana melunasi tunggakan BPJS anaknya yang menunggak 6 bulan, yang katanya diperuntukan anaknya yang menderita jantung bocor tak punya anus dan sebagainya. Tapi, ketika diarahkan ke lembaga sosial yang menaungi penggalangan dana secara profesional malah bilang gak punya kontaknya, padahal tinggal searching doang sih sebenarnya. Dan, ketika saya memberikan info kontaknya, malah nanya terus dan terus, kira-kira beginilah percakapan saya dengan bapak tadi selanjutnya

“Ini nomornya pak 0857xxxxx”

“Gak ada nomor XL nya ya mas? Pulsa saya terbatas sekali” Kata si bapak

 Sayapun jawab “SMS aja atau telpon via Whatsap”

“Saya gak punya whatsapp mas” lagi-lagi si bapak menjawab

“Lahhh, ini bisa internetan via facebook, kenapa bapak gak downloud whatsapp aja” Nada saya mulai kesel.

“Ini internetan di komputer mas”

Sebenarnya saya ingin jawab sihh “Jual aja komputernya pa, dan lunasi tagihan BPJSnya” 

Tapi ya, hm, saya takut juga kalo dia beneran emang lagi membutuhkan, maka demi kehati-hatian, saya bantu 50ribu aja ke bapak itu, saya transfer. 

Baik kali ini saya ingin bercerita dengan satu sosok lain lagi, beliau adalah sahabat baik dan guru kehidupan. Namanya Art Rodhi, Rodhi begitu saya sering sapa adalah seorang penyandang disablelitas. Sejak umur 14 tahun, dia tidak lagi merasakan nikmatnya bisa berjalan kaki. Tubuhnya dari pinggang ke bawah lumpuh, dan pipispun harus dengan selang yang di tampung plastik yang dibawa ke mana-mana. Beberapakali Rodhipun menjalani operasi pusarnya karena sering tembus cairan katanya. Pernah satu kali saya membantunya untuk mengobati luka yang ada di pantat dan pahanya. Katanya luka tersebut belum juga sembuh sejak kecelakaan 14 tahun lalu, saya menggigil dan merem melek ngelihat lukanya itu. Dan sambil ngeri, memberikan anti septik dan alkohol. Sedih, miris? Yaa, begitulah, tapi apa yang saya dapat dari seorang Rodhi, malah sebaliknya. 

Misal, ketika saya punya uang, dan bermaksud memberikan kepadanya cuma-cuma dia malah menolak, “Aku punya uang ngga usahlah diberikan gini” Dan sayapun menarik kembali uang yang akan saya beri tersebut, dan pernah suatu ketika saya mengantarnya ke suatu tempat, dan pulangnya saya yang malah dikasih ongkos, padahal saya juga sudah menolaknya berkali-kali. Dan terakhir kemarin saya ingin bermaksud membelikan sebuah bingkai yang memang dia inginkan, ehhh, ditolak katanya dia beli sendiri. Dalam beberapa kesempatan saya pernah memberikan hadiah kepadanya, tapi dalam bentuk barang tanpa sepengetahuannya, dan ini alhamdulillah diterima.

Kesimpulannya apa? Hehehhee.. coba bandingkan saja, bagaimana cara mereka bersikap dalam hidup, nanti kita bisa mengambil pelajaran dan kesimpulan daripadanya. Yaaa,, itu aja.. cukup…..
Sudut pandang adalah seni menjalani hidup
See you next yaaaapp….

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Doa, Aamiinkan Saja

​Untuk setiap hati yang pernah aku lukai namun aku abai,
Aku terlewat egois merasa yang paling banyak mengarungi luka, tanpa aku sadar, diri ini juga pernah melukis luka bahkan hingga lupa
Untuk setiap hati yang pernah aku sakiti namun aku terlampau lalai,
Aku begitu hebat mengingat setiap kesalahan yang pernah orang lain lakukan pada hati ini, namun aku begitu lemah mengingat salah yang mungkin pernah melukai banyak hati
Untuk setiap hati yang pernah aku lukai dan sakiti,
Semoga luka-luka dan rasa sakit yang pernah atau masih meradang karenaku segera disembuhkan oleh Tuhan
Semoga Tuhan selalu menyertakan kedamaian untuk jiwamu, perlindunganNya bagimu, kebahagiaan dalam kehidupanmu, dan pengabulan setiap harapan baikmu
Untuk setiap hati yang pernah aku lukai dan sakiti, maafkan kealpaan diri ini, hingga baru detik ini aku menyadari

.

.

.

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’
*Ratri

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Tuhan…

​Tuhan…

Mengapa kah aku begitu alfa dalam mengingatMu?

Hingga sombongnya aku merasa sanggup atas kemampuanku

Hingga berharap pada makhluk menjadi terasa lebih mudah di banding berharap padaMu

Hingga mencintai makhluk terlihat lebih indah di banding mencintaiMu

Hingga memperbaiki diri demi nampak mulia di hadapan manusia menjadi utama  di banding di hadapanMu

Hingga alih-alih mengejar impian demi kemaslahatan, padahal aku sedang mengejar dunia dan seisinya, sementara aku lalai mengejar ridhaMu

Hingga mudah bagiku memandang salah dan buruk pada sesuatu, seolah aku yang paling benar dan baik.
Tuhan…

Mengapa kah hatiku begitu munafik pada diriku selama ini?

Tuhan…

Jika aku ingin kembali, maukah Engkau menerimaku.

*Ra

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Melihat Langit

​Jika kau ingat teori vibrasi yang pernah kau ceritakan padaku.
Jika kau ingat teori mestakung yang juga pernah aku sampaikan padamu.
Bukankah kedua teori itu yang pernah membawa kita berjumpa?
Namun sayangnya ada teori yang lebih kuat untuk membuat kita memilih saling menjauh.
Sejauh apa pun hati kita telah memunggungi saat ini, bukankah mata kita masih bisa melihat langit yang sama?
Sebentar saja…
Maukah kau menengok langit malam ini?
Ini 7 malam terakhir ramadhan bukan?
Jika kita pernah memiliki vibrasi (yang kita anggap) sama, pernah memiliki rencana tujuan yang sama–yaitu menuju Allah
Mungkinkah doa kita pada malam-malam penutupan ramadhan ini masih sama?
Karena rupanya, hatiku masih tetap sama
Namun, jika kau telah berbeda, mohon doakan agar hatiku mampu berpaling darimu.
*Ratry

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

IBU SAYA SAKIT, MOHON DO’ANYA

Dari awal bulan ramadan kemarin Ibu merasakan sakit pinggang yang belum juga hilang, pengobatan awal saya bawa bekam ke seorang terapi, tapi setelah bekam, masih ke rasa juga. Saya puter otak, kira-kira apa yang harus dilakuin lagi. Dapetlah ke klinik yang lumayan besar. Dicek di sana, berdasarkan ciri-cirinya dokter mengambil kesimpulan, kalo Ibu menderita syaraf ke jepit di bagian tulang belakang. Dari situ, dokter menyarankan untuk segera di ronsen, setelah ronsen katanya harus Fisioterapi, sebuah istilah dari dunia kesehatan yang belum saya mengerti betul.

Beruntungnya ada beberapa teman yang berprofesi sebagai perawat dan dokter, eh Yaa Ampun, saya juga punya teman seorang fisioterapy yang tinggal di Temanggung Jawa Tengah. Dari konsultasi dari mereka dapatlah sebuah kesimpulan. Kalo mengenai syaraf ini harus ke ahlinya, yaitu dokter syaraf. Jangan sekali-kali bawa ke tukang urut itu, kata seorang perawat, pesan yang jadi saya pegang, karena terlihat dalam. Ngeriilah….

Nah, temen dari temanggung ini seorang fisioterapy, saya juga baru ingat kalo saya pernah ngegarap buku beliau buat di layout. Termasuk design pamfletnya. Nah, beliau hari ini mengirimkan Korslet Lumbusacral, korslet pinggang yang saya tau juga baru dari online doang. Saran dari seorang dokter yang nyuruh beli beginian.

Satu lagi, sekarang Ibu saya gak boleh kerja lebih berat, jadi sekarang tugas rumah yang tadinya sebagian besar dikerjain Ibu akhirnya dilimpahkan ke Saya, dari nyuci piring, ngepel dan nyuci baju. Tinggal nyetrika doang nih yang belum saya kerjain di minggu-minggu ini. Hehehe…

Mohon doanya aja ya kawan, semoga Ibu saya cepat pulih, semoga kita semua sehat. Allahuma Aamiin…
Selamat beraktivitas

Dipublikasi di Curhat | Meninggalkan komentar

Benci Buta atau Cinta Buta?

​Benci buta- Seseorang tak ada baiknya di mata si pembenci, semua dan apa yang dilakukannya dianggap salah. Bahkan ketika dia menginjak semut sekalipun, pasti diusut. 
Cinta buta- Apapun yang di lakukan seseorang dianggap baik semua oleh pecintanya, yang nyata2 salahpun tetap dimaklumi. Pokoknya cinta, semua yg dilakukan dijadikan benar semua. Jadi bersih.

Kalo bersandar ke Ayat 
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS: Al-Maidah Ayat: 8)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

 “Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan, bencilah orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai.” HR. Muslim (II/37 an-Nawawi) dan lainnya dari Hadits Tamim ad-dari radhiyallahu ‘anhu 
Perilaku ini banyak terjadi, apalagi pas era pemilihan Presiden dan Gubernur kemarin.
Cinta buta vs Benci buta
Kalian ada di posisi mana?? 

Sesuai aturan Allah kah, adil dalam bersikap ke siapapun?
Jawab sendiri dalam hati ya…

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Bertemu Seorang Guru

Apa yang harus saya lakukan setelah ini? Itu yang jadi PR saya pribadi, setelah berjuang total untuk sesuatu yang saya ingin capai, tapi jawaban Tuhan belum menganggukan, apa yang harus saya lakukan? Hm, sepertinya, obrolan minggu sore dengan Pak harry bakulan unik menjadi jawabannya. Dia bilang, begini, coba kita semua bersinergi. Rodhi, yang sudah lama berkawan dengan saya juga menjadi bagian di dalam obrolan ini. Dan di sini saya baru tahu, kalau Rodhi beli kursi roda dari wasilah dari bantuan saya yang iklanin fanpage facebooknya beberapa bulan lalu. Duh, ngga nyangka juga, tapi kita memang belum maksimal bersinergi. Kata pak Harry gitu. Maka sore itu pak harry memetakan semuanya. Apa yang bakalan kita lakukan? Pertama, kita memang sudah menjadi bagian dari agen kebaikan, kita bisa maksimalin di sini, saling bantu ini itu.

Yang kedua, dalam dunia usaha, kiranya apa yang bakalan kita lakukan untuk bersinergi. Ini yang masih kita pikirkan bersama, kalo dengan rodhi, saya jelas bakalan menjadi patner yang baik untuknya. Target awal adalah membuat acara di Car Freeday untuk rodhi, membuat sketsa sederhana dengan cepat, dan harganya seikhlasnya. Dan yang kedua, mengiklankan hasil sketsanya, yang intinya untuk promo keahliannya dalam pembuatan sketsa. Dan untuk lukisan, ini yang belum kita dapat bagaimana cara menjualnya.

Tetapi, pertemuan kemarin, membuat kita membuka banyak hal, saya pribadi belajar bagaimana dengan Pak Harry Bakulan unik, beliau dulu seorang pengusaha percetakan di instansi pemerintah, sampai akhirnya beliau hijrah, karena di sana banyak hal buruk yang intinya membuat rizkinya kurang berkah. Dan beliau memutuskan hijrah baru di tahun 2011 lalu, itu di usianya yang ke 41 tahun. Tidak muda lagi, tapi bukan alasan untuk mencoba hal baru. Nah, di tahun itu juga beliau membuat rumah batik pal batu, dan terjunlah dia di dunia batik membatik. Sesuatu yang baru dimulainya di saat sudah berkepala empat. Tetapi kalo lihat sekarang beliau di anggap seorang expert dalam dunia batik. “Intinya fokus man, dalemin apa yang lu nyakinin” Katanya menyakinkan saya. “Kondisi gue, pernah berada di titik bawah banget, sampe istri gue ninggalin ketika itu, tapi gue belajar dari semua itu. Yang terjadi diterima aja, jangan disangkal atau buat kita marah kepada Tuhan” Katanya lagi meneruskan…

Dan, akhirnya sore itu saya dan rodhi seperti mendapat spirit baru, bagaimana akan memulai sesuatu. Rodhi bakal berubah, gak akan bahas kejombloan melulu di postingan, dan saya juga berniat memfokuskan bakal kemana arah yang akan saya tuju kemudian. Soal jodoh, itu bonus dari Allah, ketika kita sudah layak untuk memikulnya. Alhamdulillah, banyak belajar lagi. Tinggal eksekusinya yang harus di Istiqamahin.

Dipublikasi di Curhat | Meninggalkan komentar

Jatuh, tapi kemudian tertawa.

Tepatnya 2 hari lalu, saya dan ibu pergi ke makam Mbah, yaitu bapaknya Ibu. Katanya dulu, ketika umur Ibu saya sekitar 4 tahun, embah atau bapaknya ibu meninggal dan di makam di kebon dekat pinggir sawah. Medan tempatnya lumayan curam, ribet dah kalo buat sampai ke sana. Pertama, bala banyak rerumputan yang tinggi-tinggi, kedua lewat sawah yang sebagian milik pemodal, jadi dipager sana sini, hehhee… Eh, tapi cukup cerita makamnya. Saya bakal cerita ke intinya saja. Waktu pembacaan tahlil dan surat Yasin seperti ziarah kubur biasanya, saya sama sekali ngga khusyu, pertama ada dua kali bunyi telpon orang, yang kedua kondisi hati saya memang lagi gak konek, hihiii..

Setelah selesai taburi bunga, dan ibu membersihkan dengan sapu sekitar area makam, kita pulang. Dan ketika sampai jembatan sawah kaki saya melangkah pelan, ibu ada di depan. Dan ternyata memang, saya tidak bisa berbohong kalo berat badan saya memang sudah 70 kilogram, huhuuu.. seketika pas langkah kedua jembatan ambruk, saya dan ibu jatuh ke kali, pakaian basah dan sedikit nyesek, walau akhirnya kita berdua tertawa. Kok bisa yah.. Sambil mikir..

Buat saya jatuh ini adalah teguran, atau boleh deh dibilang shock terapi buat pribadi, beberapa hari ini saya jarang khusyu, baca Al-quran cuma baca, ngga dapet feelnya, ngga dapet esensi nilainya. Dan terkesan abai dengan panggilan-panggilan kebaikan. Mungkin lebih tepatnya, karena ada sesuatu hal, jadi saya terkesan marah dengan Tuhan, walau bukan itu juga maksudnya. Hahahaa.. Serem banget kalo marah sama Allah mah, saya siapa sih. Lebih tepatnya marah kepada diri sendiri, mengapa begini dan begitu. Dan jreengg, saya memang tertawa-tawa berdua setelah jatuh, tapi sesaat menjelang tidur, badan pada rentek, bagian kepala yang memang nyublek ke lumpur yang paling terasa keliyengan. Dan lagi-lagi saya tertawa dengan keawaman, dan kebodohan saya pribadi. Hahahaa..

Setelah shalat, saya Istighfari itu semua, saya tarik nafas panjang, dan keluarkan, seraya mengeluarkan emosi negatif yang ada pada diri. Dan diakhiri dengan ritual syukur yang rasa-rasanya melepas segala beban. Alhamdulillah, saya sudah baikan. Saya bersyukur, begitu terus saya ulang-ulang. Dan ritual itu sekarang selalu saya jalankan ketika ada hal yang rasa-rasanya membuat hati kurang enak, terasa sakit untuk menerima sesuatu. Alhamdulillah, walau ikhlas itu memang bukan soal gampang, tapi terapi seperti ini sangat membantu. Nah, yang ngajarin ini adalah Kang Harun, seorang terapi SEFT, dari sebuah grup yang bernama Sahabat Ridha, yang di dalamnya selalu ada kajian bagus yang alhamdulillah, atas petunjuk Allah saya berada di dalamnya.

Dipublikasi di Curhat | Meninggalkan komentar

Move on itu adalah soal keputusan, tidak lagi tentang perasaan.

​Beberapa waktu kemarin, saya dilanda galau karena maksud hati ingin melamar anak orang malah mendapat penolakan. kalo boleh dibilang sakit ya sakit. Yang lebih menyakitkan lagi sebenarnya bukan lagi tentang si perempuan. Tapi, bagaimana saya menerima kenyataan kalo saya banyak kekurangan. Yang otomatis membuat sang Ibu perempuan mengambil kesimpulan untuk tidak mengiyakan lamaran yang saya layangkan.
Saya intropeksi atas semua, dan sudah memutuskan move on dari itu semua. Itu artinya saya sudah menerima, dan melepaskan, apa yang memang sudah menjadi takdir, bagian dari hidup saya.
Apa masih perih? Kalo dibilang iya ya iya, tapi saya kan memang gak punya pilihan selain melangkah ke depan. Jadi saya move on, ikhlas atas semua yang terjadi.
Kalo ditanya, apa yang saya lakukan supaya bisa move on?
Tahu ngga guys, pas sosok wanita itu mengaku kalo ibunya menolak atas lamaran yang saya layangkan, malam itu saya gak bisa tidur semalaman. Dan Alhamdulillah, setelahnya jam 2 malem, saya berwudhu, shalat minta pertolongan ke Allah. Dan nangis pecah. Hahahahaa… Malu kali sebenarnya, dan keesokan harinya saya sadar, kalo doa saya semalam salah. Karena perasaan yang belum bisa menerima. Bukan minta sama Allah untuk diikhlaskan, malah maksa minta diberikan jalan keluar supaya tetep sama wanita itu. Hahahahahaaa… Payah kali kau lay…
Ngomong2, untuk memperoleh kesadaran itu saya gak mudah, intinya hati belum juga bisa menerima, dan pengennya berlebay-lebay. Xixixixxii..
Alhamdulillah, setelah puasa 3 hari dan konsultasi sama orang yang saya percaya, cahaya penerimaan itu mulai datang pelan-pelan.

Allah karimmm..
Dan, tentu saja, sampai saat ini saya berkaca-kaca, apa hal yang salah dari pribadi saya ini saya terima dan saya adzamkan akan merubahnya ke arah yang lebih baik. InshaAllah. Pelajaran yang amat dan sangat berharga buat saya. Kalo gak begini, saya bakalan “merasa nyaman” terus dengan keadaan sekarang. “Kadang memang, kita harus ditampar dengan kenyataan hidup, supaya kita lebih paham dan bisa memperbaiki diri”
Eehhhh, ngomong-ngomong, sebenarnya, move on itu soal keputusan diri kita sendiri, mau melangkah ke depan atau mau terbawa terus perasaan di masa lalu. Dan, itu hanya tinggal pincet tombol on. Hahahaa.. Walau prakteknya tidak segampang apa yang diomongin. Xixixixixii…
Sementara caranya banyak, satu hal yang amat membantu adalah berkumpul dengan teman-teman positif, kita bisa sharing banyak hal ini dan itu, atau melihat ke bawah keadaan orang lain supaya tetap syukur tidak menyalahkan Tuhan.
Dan saya sudah dapat hikmahnya, saya InshaAllah berkomitmen untuk memperbaiki dalam diri saya. Akan lebih menjadi optimis untuk masa depan yang lebih baik. InshaAllah.
“Kalo sudah lelah untuk bersabar, maka cobalah belajar untuk bersyukur” 
Selamat malam Indonesia.. 😇😇😇

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Budaya Nyekar dan Maqam

​”Nanti, kalo gue mati, lu mah cuma setahun sekali datengin ke kuburan gue ya!”
Tadi malam, menjelang berangkat tahlil di rumah tetangga yang belum lama ini meninggal. Ibu saya berucap, beberapa hal. Intinya malam jum’at ini bakal ada pengajian akbar di makam, biasa menjelang puasa, ada budaya nyekar dan yasinan semalam suntuk di area pemakaman.
Saya dengan maksud bercanda, malah ditanggapi serius sama Ibu.
“Besok gak dateng aahh” cetus saya sambil senyum kuda.
“Emang lu mau kemana? Cuma dateng setahun sekali aja susah banget, siapa yang baca yasinan entar, kalo gue ngga bisa. Tuhh, coba lihat si x, dia mah tiap jumat datengin makam uwanya. Elu, setahun sekali juga susah amat”
“Deegg” Saya diam seribu kata.
“Nanti, kalo gue mati, lu mah cuma setahun sekali datengin ke kuburan gue ya!” Emak saya melanjutkan..
Makin merinding sayah.

Belum siap, saat itu tiba. Atau memang kita kan belum tahu, entah saya dulu, atau siapa dulu. Kita tidak pernah benar-benar tahu umur sampai di mana.
Mendengar pernyataan Ibu malam tadi, saya jadi mikir, nanti kalo saya mati bagaimana ya.
Satu yang saya kurang sepakat adalah kebanyakan di kampung, kalo maqam seperti dijadiin rumah buat yang ada di maqam, maksudnya. Maqam di bangun tembok keramik, katanya supaya ketara dalam jangka waktu lama. 
Saya pribadi, jika meninggal nanti, ingin dimakamin seperti layaknya saja. Kuburan saya gak usah ditembok. Cukup berurugan tanah merah yang di kasih batu nisan di atas kepala. Semoga saya jadi pribadi manfaat, yang jika mati nanti, dikenang atas kemanfaatannya, dikenang karyanya. Bukan dikenang bentuk kuburannya.
Nak, ini pesan buat kamu kelak jika ayah berumur panjang. Kamu mengerti kan?….

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar