Arsip Bulanan: Mei 2017

Bertemu Seorang Guru

Apa yang harus saya lakukan setelah ini? Itu yang jadi PR saya pribadi, setelah berjuang total untuk sesuatu yang saya ingin capai, tapi jawaban Tuhan belum menganggukan, apa yang harus saya lakukan? Hm, sepertinya, obrolan minggu sore dengan Pak harry bakulan unik menjadi jawabannya. Dia bilang, begini, coba kita semua bersinergi. Rodhi, yang sudah lama berkawan dengan saya juga menjadi bagian di dalam obrolan ini. Dan di sini saya baru tahu, kalau Rodhi beli kursi roda dari wasilah dari bantuan saya yang iklanin fanpage facebooknya beberapa bulan lalu. Duh, ngga nyangka juga, tapi kita memang belum maksimal bersinergi. Kata pak Harry gitu. Maka sore itu pak harry memetakan semuanya. Apa yang bakalan kita lakukan? Pertama, kita memang sudah menjadi bagian dari agen kebaikan, kita bisa maksimalin di sini, saling bantu ini itu.

Yang kedua, dalam dunia usaha, kiranya apa yang bakalan kita lakukan untuk bersinergi. Ini yang masih kita pikirkan bersama, kalo dengan rodhi, saya jelas bakalan menjadi patner yang baik untuknya. Target awal adalah membuat acara di Car Freeday untuk rodhi, membuat sketsa sederhana dengan cepat, dan harganya seikhlasnya. Dan yang kedua, mengiklankan hasil sketsanya, yang intinya untuk promo keahliannya dalam pembuatan sketsa. Dan untuk lukisan, ini yang belum kita dapat bagaimana cara menjualnya.

Tetapi, pertemuan kemarin, membuat kita membuka banyak hal, saya pribadi belajar bagaimana dengan Pak Harry Bakulan unik, beliau dulu seorang pengusaha percetakan di instansi pemerintah, sampai akhirnya beliau hijrah, karena di sana banyak hal buruk yang intinya membuat rizkinya kurang berkah. Dan beliau memutuskan hijrah baru di tahun 2011 lalu, itu di usianya yang ke 41 tahun. Tidak muda lagi, tapi bukan alasan untuk mencoba hal baru. Nah, di tahun itu juga beliau membuat rumah batik pal batu, dan terjunlah dia di dunia batik membatik. Sesuatu yang baru dimulainya di saat sudah berkepala empat. Tetapi kalo lihat sekarang beliau di anggap seorang expert dalam dunia batik. “Intinya fokus man, dalemin apa yang lu nyakinin” Katanya menyakinkan saya. “Kondisi gue, pernah berada di titik bawah banget, sampe istri gue ninggalin ketika itu, tapi gue belajar dari semua itu. Yang terjadi diterima aja, jangan disangkal atau buat kita marah kepada Tuhan” Katanya lagi meneruskan…

Dan, akhirnya sore itu saya dan rodhi seperti mendapat spirit baru, bagaimana akan memulai sesuatu. Rodhi bakal berubah, gak akan bahas kejombloan melulu di postingan, dan saya juga berniat memfokuskan bakal kemana arah yang akan saya tuju kemudian. Soal jodoh, itu bonus dari Allah, ketika kita sudah layak untuk memikulnya. Alhamdulillah, banyak belajar lagi. Tinggal eksekusinya yang harus di Istiqamahin.

Iklan

Jatuh, tapi kemudian tertawa.

Tepatnya 2 hari lalu, saya dan ibu pergi ke makam Mbah, yaitu bapaknya Ibu. Katanya dulu, ketika umur Ibu saya sekitar 4 tahun, embah atau bapaknya ibu meninggal dan di makam di kebon dekat pinggir sawah. Medan tempatnya lumayan curam, ribet dah kalo buat sampai ke sana. Pertama, bala banyak rerumputan yang tinggi-tinggi, kedua lewat sawah yang sebagian milik pemodal, jadi dipager sana sini, hehhee… Eh, tapi cukup cerita makamnya. Saya bakal cerita ke intinya saja. Waktu pembacaan tahlil dan surat Yasin seperti ziarah kubur biasanya, saya sama sekali ngga khusyu, pertama ada dua kali bunyi telpon orang, yang kedua kondisi hati saya memang lagi gak konek, hihiii..

Setelah selesai taburi bunga, dan ibu membersihkan dengan sapu sekitar area makam, kita pulang. Dan ketika sampai jembatan sawah kaki saya melangkah pelan, ibu ada di depan. Dan ternyata memang, saya tidak bisa berbohong kalo berat badan saya memang sudah 70 kilogram, huhuuu.. seketika pas langkah kedua jembatan ambruk, saya dan ibu jatuh ke kali, pakaian basah dan sedikit nyesek, walau akhirnya kita berdua tertawa. Kok bisa yah.. Sambil mikir..

Buat saya jatuh ini adalah teguran, atau boleh deh dibilang shock terapi buat pribadi, beberapa hari ini saya jarang khusyu, baca Al-quran cuma baca, ngga dapet feelnya, ngga dapet esensi nilainya. Dan terkesan abai dengan panggilan-panggilan kebaikan. Mungkin lebih tepatnya, karena ada sesuatu hal, jadi saya terkesan marah dengan Tuhan, walau bukan itu juga maksudnya. Hahahaa.. Serem banget kalo marah sama Allah mah, saya siapa sih. Lebih tepatnya marah kepada diri sendiri, mengapa begini dan begitu. Dan jreengg, saya memang tertawa-tawa berdua setelah jatuh, tapi sesaat menjelang tidur, badan pada rentek, bagian kepala yang memang nyublek ke lumpur yang paling terasa keliyengan. Dan lagi-lagi saya tertawa dengan keawaman, dan kebodohan saya pribadi. Hahahaa..

Setelah shalat, saya Istighfari itu semua, saya tarik nafas panjang, dan keluarkan, seraya mengeluarkan emosi negatif yang ada pada diri. Dan diakhiri dengan ritual syukur yang rasa-rasanya melepas segala beban. Alhamdulillah, saya sudah baikan. Saya bersyukur, begitu terus saya ulang-ulang. Dan ritual itu sekarang selalu saya jalankan ketika ada hal yang rasa-rasanya membuat hati kurang enak, terasa sakit untuk menerima sesuatu. Alhamdulillah, walau ikhlas itu memang bukan soal gampang, tapi terapi seperti ini sangat membantu. Nah, yang ngajarin ini adalah Kang Harun, seorang terapi SEFT, dari sebuah grup yang bernama Sahabat Ridha, yang di dalamnya selalu ada kajian bagus yang alhamdulillah, atas petunjuk Allah saya berada di dalamnya.

Move on itu adalah soal keputusan, tidak lagi tentang perasaan.

​Beberapa waktu kemarin, saya dilanda galau karena maksud hati ingin melamar anak orang malah mendapat penolakan. kalo boleh dibilang sakit ya sakit. Yang lebih menyakitkan lagi sebenarnya bukan lagi tentang si perempuan. Tapi, bagaimana saya menerima kenyataan kalo saya banyak kekurangan. Yang otomatis membuat sang Ibu perempuan mengambil kesimpulan untuk tidak mengiyakan lamaran yang saya layangkan.
Saya intropeksi atas semua, dan sudah memutuskan move on dari itu semua. Itu artinya saya sudah menerima, dan melepaskan, apa yang memang sudah menjadi takdir, bagian dari hidup saya.
Apa masih perih? Kalo dibilang iya ya iya, tapi saya kan memang gak punya pilihan selain melangkah ke depan. Jadi saya move on, ikhlas atas semua yang terjadi.
Kalo ditanya, apa yang saya lakukan supaya bisa move on?
Tahu ngga guys, pas sosok wanita itu mengaku kalo ibunya menolak atas lamaran yang saya layangkan, malam itu saya gak bisa tidur semalaman. Dan Alhamdulillah, setelahnya jam 2 malem, saya berwudhu, shalat minta pertolongan ke Allah. Dan nangis pecah. Hahahahaa… Malu kali sebenarnya, dan keesokan harinya saya sadar, kalo doa saya semalam salah. Karena perasaan yang belum bisa menerima. Bukan minta sama Allah untuk diikhlaskan, malah maksa minta diberikan jalan keluar supaya tetep sama wanita itu. Hahahahahaaa… Payah kali kau lay…
Ngomong2, untuk memperoleh kesadaran itu saya gak mudah, intinya hati belum juga bisa menerima, dan pengennya berlebay-lebay. Xixixixxii..
Alhamdulillah, setelah puasa 3 hari dan konsultasi sama orang yang saya percaya, cahaya penerimaan itu mulai datang pelan-pelan.

Allah karimmm..
Dan, tentu saja, sampai saat ini saya berkaca-kaca, apa hal yang salah dari pribadi saya ini saya terima dan saya adzamkan akan merubahnya ke arah yang lebih baik. InshaAllah. Pelajaran yang amat dan sangat berharga buat saya. Kalo gak begini, saya bakalan “merasa nyaman” terus dengan keadaan sekarang. “Kadang memang, kita harus ditampar dengan kenyataan hidup, supaya kita lebih paham dan bisa memperbaiki diri”
Eehhhh, ngomong-ngomong, sebenarnya, move on itu soal keputusan diri kita sendiri, mau melangkah ke depan atau mau terbawa terus perasaan di masa lalu. Dan, itu hanya tinggal pincet tombol on. Hahahaa.. Walau prakteknya tidak segampang apa yang diomongin. Xixixixixii…
Sementara caranya banyak, satu hal yang amat membantu adalah berkumpul dengan teman-teman positif, kita bisa sharing banyak hal ini dan itu, atau melihat ke bawah keadaan orang lain supaya tetap syukur tidak menyalahkan Tuhan.
Dan saya sudah dapat hikmahnya, saya InshaAllah berkomitmen untuk memperbaiki dalam diri saya. Akan lebih menjadi optimis untuk masa depan yang lebih baik. InshaAllah.
“Kalo sudah lelah untuk bersabar, maka cobalah belajar untuk bersyukur” 
Selamat malam Indonesia.. 😇😇😇

Budaya Nyekar dan Maqam

​”Nanti, kalo gue mati, lu mah cuma setahun sekali datengin ke kuburan gue ya!”
Tadi malam, menjelang berangkat tahlil di rumah tetangga yang belum lama ini meninggal. Ibu saya berucap, beberapa hal. Intinya malam jum’at ini bakal ada pengajian akbar di makam, biasa menjelang puasa, ada budaya nyekar dan yasinan semalam suntuk di area pemakaman.
Saya dengan maksud bercanda, malah ditanggapi serius sama Ibu.
“Besok gak dateng aahh” cetus saya sambil senyum kuda.
“Emang lu mau kemana? Cuma dateng setahun sekali aja susah banget, siapa yang baca yasinan entar, kalo gue ngga bisa. Tuhh, coba lihat si x, dia mah tiap jumat datengin makam uwanya. Elu, setahun sekali juga susah amat”
“Deegg” Saya diam seribu kata.
“Nanti, kalo gue mati, lu mah cuma setahun sekali datengin ke kuburan gue ya!” Emak saya melanjutkan..
Makin merinding sayah.

Belum siap, saat itu tiba. Atau memang kita kan belum tahu, entah saya dulu, atau siapa dulu. Kita tidak pernah benar-benar tahu umur sampai di mana.
Mendengar pernyataan Ibu malam tadi, saya jadi mikir, nanti kalo saya mati bagaimana ya.
Satu yang saya kurang sepakat adalah kebanyakan di kampung, kalo maqam seperti dijadiin rumah buat yang ada di maqam, maksudnya. Maqam di bangun tembok keramik, katanya supaya ketara dalam jangka waktu lama. 
Saya pribadi, jika meninggal nanti, ingin dimakamin seperti layaknya saja. Kuburan saya gak usah ditembok. Cukup berurugan tanah merah yang di kasih batu nisan di atas kepala. Semoga saya jadi pribadi manfaat, yang jika mati nanti, dikenang atas kemanfaatannya, dikenang karyanya. Bukan dikenang bentuk kuburannya.
Nak, ini pesan buat kamu kelak jika ayah berumur panjang. Kamu mengerti kan?….

Imajiner Ikhlas…..

​Harus ikhlas dengan segala yang terjadi. Kadang dalam hidup ini ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan walau sekuat apapun kita berusaha”
Rina Shu..
Setitik embun ketika itu jatuh tepat ke hati, sungguh menyegarkan apa yang ada di dada. Tapi seketika itu panas matahari menyinari, membuatnya kembali kering dan mati. 
Siapa yang mati? Tidak, tidak apa-apa. Kamu tahu sinar matahari itu baik untuk tumbuhan? Jadi, kamu jangan main menghakimi hanya karena matahari menyinarkan panas. Itu namanya judge tanpa pengetahuan. 
Banyak belajar lagi, supaya kamu tahu ilmu ikhlas.

“Heyy apa kabar?” Tanyanya lagi menyapa..
Jika ditanya, siapa sosok terbaik untuk si Aku, maka jawabannya masih dia. Tetap dia, karena menurut si Aku, dia adalah wanita terbaik untuk dijadikan Ibu untuk anak-anaknya. Cerdas, berkarakter. 
“Perubahan hidup dimulai dari seorang ibu dan istri yang berkarakter kuat” Katanya lagi melanjutkan.
Tapi siapalah si Aku, dia tau diri. Pengetahuannya hanya sebatas mata, dia tidak tahu apa-apa. Sedangkan Tuhannya Maha Mengetahui.
“Jadi kamu tidak beriman kalo Tuhanmu Maha Mengetahui?” Tanyanya lagi..
Sungguh, mengapa jadi sesakit ini, yang lebih menyakitkan adalah ketika si dia terlihat begitu mudah merubah sikapnya. Sedangkan Aku mati-matian membunuh rasa.
“Heyy Jawab, jadi kamu tidak beriman kalo Tuhanmu Maha Mengetahui?” Hentaknya tak sabar..
Astagfirallah, sungguh pengetahuanku terbatas, sedangkan pengetahuan Tuhanku melampaui nalar semesta.
“Jadi, sudah cukup kan, ngertikan?” 
“Iya, Aku hanya butuh waktu barang sebentar” Jawabnya lagi pelan…
“Banyak baca Al-Quran, dan pahami maknanya. Supaya hatimu tenang” Terangnya lagi, seraya menghilang dari tatapan…
Malam hening, di sebuah pelataran, langit dan bulan yang menjadi atapnya.
Allah Kariiimmm……..

Pelajaran Mahal

“​Mas mah enak, kalo patah atau gak semangat paling sebentar, temen mas mah lucu2, itu lihat di komentar fbnya”
Kata seorang kawan….

Dia tidak tahu, setelah keputusan yang menyakitkan itu keluar saya berpuasa 3 hari. Seraya membuang segala harapan yang salah, atau mungkin meluruskan hati, membeningkannya kembali daripada perasaan yang tidak seharusnya.

Beberapa malam saya tak bisa tidur, dan bersyukurnya itu bisa dijadiin ladang waktu zikir. Masya Allah tabarakallah, ini semua membuat hati menjadi lebih baik. Bahwa sesungguhnya cukup Allah sebagai sandaran, cukup Allah sebagai penolong. Hasbunallah, wani’mal wakil, ni’mal maula wa’nimanasir, walahaula walaquwata Illa Billah.

Tidak ada yang saya sesali, kecuali sebagai bahan intropeksi. Kata-kata itu, teriang di dalam hati saya, seraya sebagai pecutan yang lumayan dalam.

“Apakah kamu sudah bisa menghidupi anak perempuan orang, dengan keadaan yang dilihat secara riil kamu masih begini?”

Sesak sekali diawal mendengarnya, malam itu, malam nisfu sya’ban, saya cuma tidur ayam. Yang bangun, melek, tidur ngantuk merem ayam, sampai jam 2 pagi, saya putuskan untuk bangun berwudhu, duuuuh, ternyata pelajaran yang paling dalam adalah ketika isak tangis itu tertuju ke Allah. Saya adzamkan dalam hati, bahwa saya ikhlas dengan yang memang Allah takdirkan. Keberserahan diri ini memang bukan perihal gampang. Bahkan, untuk sekedar tak peduli lagi dengan sosok itu.

Memang, akan selalu ada bekas dari yang namanya luka, tapi Allah Maha Baik, akan menyembuhkannya dengan keikhlasannya kita untuk menerima.

Pelajaran yang teramat mahal buat saya pribadi, harga sebuah pelajaran yang harus dibayar dengan perasaan patah.

Tapi yang teramat mahal lagi adalah perasaan menerima atas takdir Allah, atas setiap yang terjadi.

Setiap waktu adalah pelajaran, semua akan terlewati. InshaAllah.

PESAN DARI SEBUAH KEMATIAN

Ba’da Ashar kemarin, terlihat gerumungan orang berkumpul di rumah yang memang dari dulu sudah saya amat kenali. Biasanya memang, orang-orang sering bolak balik beli ini dan itu di rumah yang digerumungi banyak orang itu, beliau buka warung, tepatnya di belakang rumah saya. Orang-orang biasa memanggilnya Emak Eno, sosok yang baik. Saya pribadi mengenalnya dari masih kecil, setiap pagi jajan nasi uduk, ba’wan, dan segala macemnya. Sepanjang mengenalnya, beliau adalah sosok yang baik, selain murah, kalo beli apa-apa orang kadang malah dikasih ini itu.

Tapi ada yang berbeda di sore kemarin. Gerumunan orang membuat saya meransek ke dalam, sosok perempuan 60an tahun itu sedang sakratul maut, dan karena kebetulan dari masjid shalat asharan dan masih punya wudhu, saya disuruh mentalqinkan di telinganya Ashadu Alla ILLA HAILLALLAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADARASULLALLAH,  demikian saya lantunkan berulang-ulang, sampai akhirnya nafasnya sudah berhenti. Sepanjang hidup ini saya pernah 2 kali ini berhadapan dengan orang yang sakratul maut. 


Dan selalu ada nilai spiritual yang lebih jika berhadapan dengan hal beginian. Suara tangis anak dan saudaranya teriang di telinga, satu anak laki-lakinya malah belum tahu karena sedang bekerja. Sejam kemudian baru sampai rumah, dan air matanyapun jatuh menitik di pipi. Mungkin itu mengapa, alasan orang tua selalu ingin berada dekat anaknya. Alasan pertama adalah supaya di saat-saat terakhir ditemani oleh anaknya. Walau bagaimanapun kita tidak tahu umur akan sampai dimana? Semoga kita bisa mengucapkan kalimat tauhid, syahadat di saat menjelang kematian, jika tidak diucap di mulut, semoga bisa kita ucapkan di dalam hati. Itu, adalah saat penting yang menentukan Kebaikan baik atau yang sering kita sebut Khusnul Khatimah di akhir. InshaAllah…

Pentingnya Talqin bisa kita simak di penggalan hadist Nabi:

Talqinilah orang yang hendak meninggal dengan La Ilaha Illallah dan berilah berita gembira tentang surga, sesungguhnya orang mulia, baik dari kaum laki-laki dan wanita kebingungan di dalam menghadapi kematian dan mengalami ujian. Sesungguhnya setan paling dekat dengan manusia pada saat kematian, dan melihat malaikat kematian lebih berat dari pada penggalan pedang 1000 kali”.

(HR. Abu Naim). 




Sore menjelang maghrib jenazah sudah rapi dimandikan dan dikafani, saya dengan beberapa orang ambil keranda kurung batang dan memasukannya ke dalam kediaman beliau. Ada momen yang buat saya sedikit gusar, ketika kain penutup keranda, tidak ditemukan di sana sini. Saya bulak balik masjid, sampai pada kesimpulan ditutup kain saja. Tapi akhirnya ditemukan, ternyata ada di rumah warga yang memang sudah dibawa.

Setelah dishalatkan ba’da maghrib jenazah dibawa ke pemakaman keramat kampung karet, kami mengiringi sambil membacakan kalimat tauhid di sepanjang jalan. Di pemakaman, saya berdiri di depan, sambil membantu proses pemakaman. Sebenarnya saya ingin turun ke bawah, ke liang lahat, tapi itu hak keluarganya. Saya tak mau melampaui. Dan yang serasa teriris hati adalah ketika sang anak mengadzankan dan mengiqamatkan langsung, suaranya sesak, dalam sekali. Itu tandanya perpisahan telah tiba, di adzankan, di iqamatkan, lalu diurug dengan tanah merah, dan kemudian ditinggal di tempat segi panjang berdindingkan tanah. Selalu ada momen yang membuat hati bergetar ketika mengingat pesan kematian. Suatu hari, saya juga atau siapapun yang hidup akan merasakannya juga. Harapan saya pribadi, semoga nanti jika panjang umur, saat-saat seperti ini bisa diadzankan dan diiqamatkan oleh anak laki-laki saya sendiri, yang bermanfaat buat orang banyak. Aamiin.

Mati adalah kemungkinan pasti, yang tidak bisa kita hindari. Sekuat apapun, sehebat apapun, dan sekaya apapun manusia, mati adalah keniscayaan.

Pesan dari sebuah kematian.

Suatu hari nanti mungkin anak saya membaca ini, dan semoga dia bisa melihat pesan tersirat di dalamnya.

Sampai bertemu lagi.. J