Arsip Bulanan: April 2014

Suatu Masa

Ada suatu masa, di mana kita tak lagi mampu membedakan antara benci dan cinta, dan karenanya kita membiarkan burung-burung dalam hati berkicau lirih, dan saat itu kita memilih menepi dan memikirkan satu hal yang sama, Apakah perpisahan sebagai solusi atau malah kembali menaiki kapal yang sama dalam satu nahkoda dengan memperbaiki visi dan misi, tetapi hati tertarik ego yang menghampiri, panas sekali rasanya, mungkin kita selalu begitu, merasa cinta tetapi egolah yang lebih menguasai, hingga jurang waktu memutuskan semua, saat itulah kita tak lagi bertemu sampai saat ini, saat di mana hati memanggil-manggil rasa yang sama tetapi semua sudah percuma, mungkin kita memang ditakdirkan dengan orang yang berbeda dan rasa tak akan pernah kembali.

Jarum jam berdetak kencang, rasa-rasanya seperti sedang memburuku yang sedang gelisah, kini waktunya telah tiba, di mana hati dipaksa melekat pada satu sosok yang tak pernah ku kenal sebelumnya, mungkin ini memang jalan yang diberikan Tuhan, dan aku menikmatinya walau rasa tanda tanya lebih mendominasi, tetapi apalah aku, yang tak kuasa untuk melawan ketentuan Tuhan, jadi ku harap kau tak kecewa lagi, ikhlas saja, tohh, suatu saat kau jua akan menikah, dan biarkanlah aku dengan pilihanku ini, membaktikan diri kepada ayah bunda yang aku yakini beliau begitu menyayangiku.

Lembayung biru menyengaja pergi, menyusup rasa yang tak biasa, daun basah menjatuhkan embun, sekarang kini waktunya, aku berada pada saat yang tepat dan pada sosok yang tepat, sosok gadis itu, mungkin memang bukan si gadis berkacamata, tetapi aku lebih yakin kepadanya, melebihi yakinku kepada si gadis berkacamata yang lalu pergi itu, dan kini aku akan mendatanginya malam ini bersama bapak dan ibuku untuk melamarnya, dan aku sangat bahagia, dan tak mampu mengungkapkan dengan kata-kata.

Iklan

Merasakan takut

Saya lumayan takut untuk memulai, mungkin sama takutnya dengan seorang bayi yang baru melihat dunia dengan mata kepalanya, mungkin setiap bayi yang dilahirkan merasa khawatir karena dunia tidak senyaman perut seorang ibu atau mungkin dia sedang merasakan udara yang dingin atau boleh jadi dia sedang memikirkan kehidupannya kelak, apa penuh dengan kebahagian atau malah durjana, mungkin itu mengapa ketika dilahirkan kedunia seorang bayi memilih menangis ketimbang tersenyum, dunia memberikan beribu tanda tanya di benaknya, apa yang akan dilalui, sukakah, bahagiakah, atau derita. Atau boleh jadi si bayi takut akan catatan-catatan ketentuan Tuhan terhadapnya, Ahhk..! bukankah manusia itu mahluk pemilih, tetapi ketentuan Tuhan siapa yang bisa melawan..! atau adakah alasan lain yang lebih masuk di akal?.
Dahulu ketika kita masih bayi berapa kali kita merasa takut, berapa kali kita gagal lalu kemudian menangis karena kesal atau kesakitan, berapa kali kita mencoba tengkurap namun gagal dan merasakan lelah yang sangat, berapa kali kita mencoba merangkak tetapi tak kuat menopang badan, berapa kali kita belajar berdiri dan kemudian jatuh, dan berapa kali kita merambat menelusuri muka tembok yang pucat, tetapi nyatanya sekarang kita bisa, apa dahulu kita tidak merasakan takut mungkin jika kita waktu itu memutuskan berhenti mencoba kita tak akan pernah bisa merangkak, merambat atau berjalan dan berlari sekalipun

Di Penghujung Senja

Ku tatap rindu menawan ketika sore menunjukan warna yang tak biasa. Bayang mentari yang menguning mengantarkannya kepada senja. Aku selalu merindukan peristiwa ini, peristiwa yang sudah lama rasa-rasanya hilang entah kemana. Bukan senja yang menghilang tetapi kau ya kau, sosok yang berada di sampingku dan kemudian malah memberikan sebuah undangan pernikahan dengan cara tidak hormat, Aku pikir ini tidak sekedar kurangnya penghormatan tetapi lebih dari pada cara yang menyakitkan hati, dan akupun sama gilanya denganmu karena tidak mampu memberontak ketika tubuhmu merangkul dan memelukku, Ahhk aku merasa berdosa sekali kali ini, pelukan terakhir di penghujung senja itupun Cuma jadi sejarah yang rasa-rasanya membuatku berdarah-darah, dan Aku mengaku kalah, dengan airmata yang menjadikanku menjadi seorang wanita yang begitu lemah, dan kau sepertinya sedang menikmati raungan tangisanku, kejam, kejam sekali, mungkin ini memang sama kejamnya dengan sikapku kepadamu waktu itu yang menghiraukan dan menganggapmu tiada, Ahk rasa-rasanya lebih dari semua itu, karena aku tahu pembalasan selalu lebih menyakitkan dari pada peristiwa awal, padahal tadinya aku pikir akulah orang yang akan amat tegar di perpisahan ini, tetapi nyata-nyatanya akulah yang menangis di hadapanmu, Ahhk ini sesuatu yang memalukan, karena Aku sudah menolakmu untuk kesekian kali, tetapi kali ini mengapa aku yang merasa kesepian dan kehilangan, sial, aku terkena sial karena baru tersadar kalau sesuatu yang berharga akan terasa keberadaannya ketika ia pergi menghilang, dan senja sore itupun mati tertutup gelap malam bersamaan itu ku hempaskan tubuhku dari pelukanmu. Aku tidak ingin berlama-lama lagi berada di tempat ini, tempat yang hanya akan menyayatnyayat hatiku, Aku ingin berteriak kencang jika setiba di kamar rumahku, tidak butuh lagi pendengaranmu wahai pria yang tadinya mengaku kesepian, pria yang mengaku siap mengorbankan apapun untukku kala itu, Aku sudah terlampau keterlaluan terjebak pada perasaan yang tidak seharusnya, dan kali ini Aku meninggalkanmu dengan perasaan bersalah karena sudah memeluk sosok calon suami seorang wanita lain yang mempunyai perasaan cinta untukmu, dan Aku buru-buru mengusap pipiku yang masih basah dan memberikan ucapan selamat dengan menjulurkan tanganku ke hadapanmu, lalu Aku meninggalkanmu sendiri tanpa harus menengok kembali, dan Aku tidak mau ini kembali berulang di kehidupanku, cukup sekali sakit hati, cukup satu kali.

Hanif (Dzikir dan Pikir)

2236_hanif-web
HANIF (Dzikir dan Pikir)
Oleh : Reza Nufa
Harga : Rp. 45000
Ukuran : 14x20cm
Tebal : 384 hlm
Terbit : Mei 2013
Penerbit : DIVA Press

Saya tertarik dengan Novel ini ketika seorang teman yang juga seorang penulis memberikan endorsmentnya pada sampul novel ketika saya melihat di halaman penerbit Divapress, itu sekitar di tahun 2013, tetapi saya tidak langsung membelinya ketika itu, hanya ada ketertarikan atau boleh dibilang chemistry awal.. Hehee.., dan butuh waktu cukup lama jaraknya hingga saya memutuskan untuk membeli novel ini, adalah pertemuan saya untuk pertama kali dengan penulis hingga membuat saya jatuh hati untuk membeli karyanya ini hehehe, tetapi bukan jatuh hati kepada penulisnya ya, pada karyanya lohh bukan penulisnya.. jangan disamakan itu..! Pertama membaca judul novel ini saya sudah terkesan, dan dalam imajinasi saya waktu itu berpikir ini pasti bukan novel biasa, teringat sebuah ungkapan mahsyur “mikir sedikit lebih baik dari pada zikir semalaman” dan begitulah yang dilakukan tokoh utama novel ini, Hanif, sosok anak muda yang berpikir Idealis tentang makna kebenaran beragama, sosok yang memberikan gagasan pembaharuan terhadap bagaimana cara beragama dengan sesungguhnya, ingat Hanif saya menjadi ingat dengan sosok KH Ahmad Dahlan tokoh pendiri Muhammadiyah yang juga mengalami banyak pertentangan dari kalangan ulama sendiri pada waktu itu, hanya saja pemikiran Hanif lebih exstream dari KH Ahmad Dahlan, di Novel ini di jelaskan apakah agama hanya menjadi simbol sebagai pembelaan keyakinan di mana kekerasan menjadi sesuatu hal yang lumrah, pembakaran rumah ibadah atas nama agama, pertumpahan darah atas nama agama, saling curiga, saling serang dan sebagainya, permasalahan sosial di mana-mana, agama bukan malah menjadi solusi, para Ustadz hanya mengajarkan ritual harian atau hanya bisa mengajarkan bersabar dalam kemiskinan bukan memberikan solusi, Apakah agama menjadi alasan sebuah kekerasan sesama umat manusia? Apakah agama hanya dikenal sebagai dogma atau amalan ritual-ritual yang membatasi otak manusia untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya? Menarik bukan..!

Hanif adalah seorang anak muda lulusan pesantren salafi yang kuliah di sebuah Universitas di Jakarta, bertemu dengan Pak Alimin (Dosen Filsafat) adalah awal di mana ia mulai mempertanyakan kebenaran agama yang dianutnya , mulailah ia mempelajari banyak agama, mempertanyakan keberadaan Tuhan, mempertanyakan takdir dan sebagainya, kesenangannya mempelajari dunia filsafat dan teologi membuatnya hanyut dan dari situlah ia mulai mengkritisasi ajaran agamanya sendiri. Novel ini cukup berani dalam mengutarakan idealisme yang mewakili idealisme penulis, saya berasumsi Hanif itu adalah Reza dengan segala pemikirannya, kata “penghapusan agama” membuat saya pribadi menganggap Hanif memang sedikit gila (maaf ya mas Reza) tetapi ini menjadi menarik, memang untuk merubah dunia ini butuh orang gila seperti Hanif, orang-orang yang berani berpendapat walau itu adalah sebuah yang belum tentu benar, karena hakekat kebenaran adalah pencarian bukan taqlid buta , jangan pernah takut tersesat selama kamu terus mencari (saya ambil dari dialog hanif dan Pak Alimin) dan dengan itulah seorang Hanif terus mencari dan mencari, seperti pencarian Nabi Ibrahim akan konsep Tuhan.

Saya tertarik dengan tokoh utama kedua dalam Novel ini, yaitu Idam, diceritakan sebagai tokoh yang lebih kalem dari pada Hanif, walau dia adalah seorang pengagum dan pengekor Hanif, sosok yang Hanif bilang tidak punya pendirian, karena selalu mengikuti ke mana Hanif berada, dari kecil, pesantren masuk STM dan kuliah Idam selalu ingin bersama Hanif, karena Idam ingin menyaingi Hanif walau selalu saja Hanif selalu berdiri satu langkah lebih maju darinya, sampai pada pengembaraan Hanif untuk mencari ketenangan dan kebenaran setelah dia bertengkar dan dianggap gila oleh Bapaknya di situlah Hanif melarangnya untuk membuntutinya lagi, dan di akhir-akhir cerita Idam lah yang menjadi pahlawan yang begitu heroik, menyebarkan pemikiran seorang Hanif ke mana-mana, lewat lembar fotokopi, masjid demi masjid dilewati, dari Surabaya, Magelang sampai ke Bogor. babak belur, kekurangan ongkos, jalan kaki, kehilangan perbekalannya, semua dilewati dengan gigih oleh Idam, karena Idam tahu Hanif tak akan pulang kecuali dengan adanya sesuatu yang besar, dan akhirnya benar-benar terbukti Hanif pulang setelah melihat kabar tentang berita penghapusan agama yang disebarkan oleh Idam di mana-mana termasuk televisi, media cetak dan online.

Ditampilkan sosok Disti seorang kristiani yang taat sebagai teman diskusi Hanif menjadikan cerita semakin kompleks dan menarik, bagaimana cara Hanif menghargai dan bersikap terhadap kepercayaan Disti dengan diwarnai nuansa Asmara antara keduanya? Hm.. menarik sekali bukan..!

Kegalauan dan kegelisahan seorang Hanif menjadikannya menjadi seorang pemikir besar, yang menawarkan solusi untuk umat manusia khususnya Nusantara, secara gamblang di sini diceritakan kondisi sosial masyarakat beragama di Nusantara, kebanyakan orang beragama malah memberhalakan agamanya bukan menyembah Tuhan, jadilah fanatisme yang tak berujung, rumah ibadah agama lain disegel atas nama agama, kitab suci dibakar atas nama agama pula, agama dijadikan alasan kebencian dan permusuhan bukan lagi sebagai cara menyembah Tuhan yang sebenarnya, Agama seharusnya menjadi simbol perdamaian dan solusi setiap permasalahan sosial, yang memberikan solusi terhadap kemiskinan bukan hanya mengajarkan bagaimana bersyukur dan bersabar dalam kemiskinan, Apakah Syariat Islam menjadi solusi di atas keberagaman agama di Nusantara? Atau Ahlak terlebih dahulu yang harus dibentuk? Toh, nyata-nyatanya orang yang beragama sekalipun sama saja berkorupsi berjamaah bahkan di wilayah keagamaan itu sendiri (Kementrian Agama). Begitulah pemikiran Hanif, saking rindunya dengan hakekat kebenaran agama yang sebenarnya, Hanif memilih mengembara tanpa tujuan menelusuri pulau jawa sampai akhirnya ia bertemu dengan sosok Kiai Yanto (seorang Kiai Ahli Hikmah) di Surabaya, yang memberikan begitu banyak pencerahan kepadanya, ada yang begitu menarik dalam dialog antara Idam dan Kiai Yanto ketika Idam pergi mencari Hanif, “Antara ahli ibadah dan orang yang bermanfaat bagi sesama mana dulu yang akan masuk surga” ini benar-benar pertanyaan klasik yang jawabannya tidak semua orang paham, adalagi pertanyaan Kiai Yanto yang cukup menarik kepada Idam ”Jadi apa Tujuan Tuhan sebenarnya menciptakan manusia? Menjadi khalifah di muka bumi atau menyuruh menyembahnya? Lalu bagaimana nasib para penemu besar yang mempengaruhi kehidupan manusia hingga kini? James Wat, Thomas Alfa Edison, Graham Bell, apa dia mendapatkan surga atau neraka” kalau mau tau jawabannya silahkan beli dan baca novel ini ya.. (nanti saya minta fee sama penulis upah marketing)

Ditampilkannya Sosok Ayah Hanif yang terkesan konservatif, Disti seorang penganut kristiani yang taat, Dinda yang berteman dengan orang LDII, tentang umat Islam yang kearab-araban dengan Islam Nusantara menambah geregetan pengen lahap habis isi Novelnya. Secara keseluruhan novel ini memang menyajikan pengetahuan yang amat bergizi, mengajak pembaca untuk hanyut dalam pemikiran Hanif dan mulai bertanya, apakah selama ini kita benar-benar beragama? Atau jangan-jangan hanya taqlid buta pada dogma? Silahkan bagian ini dijawab sendiri..

Alur cerita di Novel ini maju mundur. Jika Hanif yang menjadi tokoh utama kebanyakan beralur maju, dan jika Idam yang menjadi tokoh utama lebih banyak memakai alur mundur kecuali di akhir-akhir cerita.
Ada tambahan sedikit mengenai novel ini, Saya agak terganggu dengan tidak disebutkannya siapa tokoh utama pada setiap awal cerita novel ini, kadang saya bingung ini Hanif atau Idam ya, tetapi secara keseluruhan saya hanyut dan rasa-rasanya saya ingin masuk dalam imajinasi penulis, untuk menjadi teman diskusi Hanif atau setidaknya menjadi pengagum Hanif sama yang telah dilakukan Idam.
Untuk Mas Reza ditunggu Novel kelanjutan Hanif oke..
Demikian, terima kasih…

Salam

Pertama Kali Saya Mengumandangkan Adzan (curhat)

Dulu, ketika menjadi santri TPA (Taman Pendidikan Al-qur’an), saya pernah dipaksa mengikuti lomba Adzan oleh guru, karena memang khusus untuk lomba Adzan semua santri lelaki wajib ikut, dan ikutlah saya, dan jreng.. hasilnya bagaimana?? Saya adalah satu-satunya santri yang salah melafazkan Lafaz Adzan ketika itu,(pengen nangis kalau ngingetnya), maklum, waktu itu sekitar baru 5 atau 6 tahun (membela diri), walau santri yang lain juga seumuran segitu (bunuh diri), sampai sekarang saya belum tahu mengapa dulu saya menjadi santri satu-satunya yang salah mengumandangkan Adzan, yang saya yakini itu bukan karena kebodohan tetapi hanya karena faktor lupa (membela diri) hehee..

Cukup mengenang masa kecil saya sampai di kesalahan mengumandangkan Adzan itu, kali ini saya ingin mengajak Anda ke masa remaja, ketika SMP saya adalah orang yang begitu pemalu, salah satu siswa yang tidak pernah menjadi petugas upacara dari SD sampai SMP, salah satu siswa yang paling takut kalau tampil di depan, salah satu siswa yang pernah dihukum karena tidak mampu menghafal hadist oleh guru agama, padahal kalau tidak di depan guru saya hafal (membela diri, tapi kali ini serius deh), mungkin perasaan salah melafazkan lafaz Adzan di waktu kecil itu membuat saya menjadi trauma berkepanjangan, Ahhk itu pembelaan pribadi saya saja, tetapi Anda bebas berpendapat.

Saya adalah orang yang begitu pengecut waktu itu (sekarang merasa jadi pemberani) hehe, sampai-sampai ketika diajak untuk berdagang bubur ayam saja saya tidak mau (saudara saya tukang bubur ayam ketika itu), boro-boro jualan sendirian atau mengumandangkan Adzan lagi, sama sekali tidak terpikirkan, alasannya cuma dua, takut dan malu, dan mulailah saya berdalih kepada kaka saya yang sering ngomel “Malu itu sebagian dari pada iman” (ngeplesetin Hadist ini namanya), sampai akhirnya saya dipertemukan kepada organisasi Islam yang berbasis pelajar ketika itu, Pelajar Islam Indonesia, di organisasi inilah saya mulai belajar untuk kritis, mempertanyakan banyak hal, termasuk kebenaran agama saya sendiri, dan di Organisasi inilah saya berani tampil di muka umum, ikut LBT (Leader Basic Training) di Bekasi, ikut Demo di Bundaran HI waktu itu, dan kegiatan lainnya, yang membuat saya tersadar setiap manusia itu mahluk yang unik dan merupakan diciptakan untuk menjadi Khalifah di muka bumi, jadilah saya sedikit demi sedikit menjadi lebih baik, soal adzan jangan ditanya lagi sejak kelas 2 SMA saya menjadi marbot Masjid di lingkungan dekat saya tinggal, pasti Anda tahu salah satu tugas Marbot itu apa?? Adzaannn.. hehhee, Saya jadi tukang Adzan di Masjid itu sekaligus membersihkan semua fasilitas mesjid, dan saya bersyukur ketika itu, karena sudah tidak salah lagi dalam melafazkannya, hahhaa.. dan selama satu tahun (sampai kelas 3 SMA) saya menjadi marbot tetap di sana, dan terus mengumandangkan Adzan, dan sekarang saya masih suka mengumandangkan Adzan walau tidak sesering dulu, Adzanlah sebelum engkau diAdzankan pikir saya, dan teman-teman saya yang dulu ikut lomba adzan bersama saya dan ikut mentertawakan saya ketika saya melakukan kesalahan dalam melafazkannya sekarang kemana? Ahhk Saya kira tidak perlu dibahas, yang perlu saya lakukan adalah melawan diri sendiri bukan orang lain, titik sampai di sini.

Untuk Gadis (cerpen)

Akhirnya kita bertemu di sini, di sebuah tempat yang membuat kulit mengigil, tepat di pemakaman sepupumu itu, waktu berjalan sangat cepat, mengalahkan rasa yang sudah tertinggal jauh di belakang, Kamu telah kehilangan sepupumu itu dan Akupun begitu, air mata yang jatuh waktu itu menandakan betapa membekasnya jejak yang dibuat olehnya, di pemakaman kala itu akupun tanpa ragu masuk keliang lahat, kau tau gadis di sana Aku melihat terakhir kali sosok sepupumu itu, cantik, cantik sekali, mungkin jika waktuku yang tiba, Aku juga ingin dikenang baik, sama dengan sepupumu itu, dia itu orang yang mengenalkanku kepada dunia tulis menulis, dia itu orang yang paling getol memotivasiku ketika Aku merasa terpuruk, dan dia itu adalah sosok wasilah yang membuatku berada di tempat kerjaku sekarang, lalu bagaimana mungkin Aku melupakannya gadis? Mana mungkin?
Hujan membasahi, gugusan bintang hari ini tak akan kembali, janji-janji cinta yang terucap pun kini sudah basi, mungkin sejak kamu bilang sudah tak punya rasa lagi kepadaku, dan ini saat yang sangat tepat, senyumanmu kepada sosok yang berada di sampingku menambahkan keyakinanku, ini waktunya, ya ini waktunya, maka di tepi pemakaman kala itu bukan hanya jasad sepupumu yang terkubur, Akupun memaksa rasa, untuk tinggal di kotak segi empat itu, meninggalkan setiap kenangan yang sudah mati, dari status facebook dan sikapmu kepada sosok lelaki yang berada disampingku itu, Aku tahu, kamu sedang jatuh hati, dan sikapmu kepadaku waktu itu, acuh, acuh sekali, dan ketikaku mendekatimu Aku hanya mendapat sebuah muka masam yang mengarah kepadaku dengan sebuah kata yang membuat hatiku terkikis, dan waktu itu aku tersadar bahwa keberadaanku tiada lagi diinginkan, dan Akupun menyerah pulang, semua kenangan sudah terkubur bersama sepupumu, foto-foto dan surat darimu ku buang ke kali ciliwung yang entah berujung kemana, bukan sebagai ritual tetapi lebih kepada sugesti supaya aku bisa melupakanmu cepat, kau tau gadis di setiap pagi Aku melakukan shalat hajat meminta kepada Yang Maha Kuasa untuk membunuh rasa, jodohku denganmu memang sampai disini tepat sampai di pemakaman sepupumu itu, tidak lebih, dan kali ini Aku sudah memilih untuk lupa

Gadisku yang hilang

Daun jatuh bersama tetes air hujan yang masih basah, sejenak memberikan suasana sejuk akan terik yang tadi siang begitu pengat. Aku masih di sini, di sisi jalan yang tak bernama, menemani setiap jejakmu yang hilang pergi, rasanya baru tadi pagi, padahal ini sudah hari kesekian atau mungkin bulan kesekian, semua terasa absurd di hati, burung-burung bernyanyi lirih, adakah kabar kamu di sana hari ini, di tempat yang tak pernah diizinkan aku menjengukmu sama sekali, dan anehnya masih saja aku mau menanti, masih saja aku mengharapkan balasan sms darimu entah untuk sekedar menanyakan kabar atau mungkin meminta dijemput pulang, tetapi semua itu sia-sia, berakhir di khayalanku yang masih tersamar rindu.
Angin bertiup pelan, luka-luka di hatiku rasanya masih saja basah, mungkin karena tak ada yang mengobati, dan akupun tidak berniat untuk mengobatinya lagi, karena aku lebih memilih menikmati, entah seberapa sakitnyapun itu. Kali ini Aku lebih memilih belajar arti setia dari matahari, ketikaku menyangka ia pergi, ternyata hanya bersembunyi, menantiku di belahan dunia lain, ketika waktunya tiba dia akan kembali menyinari, tetapi semua menjadi absurd ketika kabar pernikahanmu itu sampai pula di telingaku ini, tanpa undangan tetapi sudah mampu menghancurkan hatiku yang sedang resah, walaupun begitu aku tak akan mampu untuk membencimu barang sedikitpun, kaulah yang mengajarkanku arti menerima ikhlas, seperti bumi terhadap sesuatu yang berada di atasnya, walau aku belum juga paham apa itu maksudnya, ohw tidak,tidak..! logikaku sangat paham itu tetapi perasaanku tidak mampu menelisik lebih jauh dari sekedar kata-kata.
Aku tidak membencimu gadis tetapi aku membenci caramu yang seperti ini, tanpa kabar, tanpa pesan, tanpa menghiraukan, membiarkanku dalam pengharapan yang tak berujung, sebegitu bencinya kah kau kepadaku gadis? Kau telah pergi sejauh-jauhnya tanpa menengok kembali kearahku, bahkan di pernikahanmu itu kau sama sekali tidak menyediakanku kursi untuk sekedar hadir dan mengucapkan selamat.
Aku membenci caramu gadis tetapi Aku masih tetap mencintaimu, walau aku sadar bahwa semua ini hanyalah sebuah lelucon
Aku akan tetap mencintaimu gadis seperti cintanya gelap terhadap malam
Aku akan tetap mencintaimu gadis seperti cintanya api terhadap rasa panas
Tidak peduli walaupun ia gelap, tidak peduli walaupun itu terasa membakar
Aku akan tetap mencintaimu

Senin 31 Maret